Oleh
: Siti Aisyah Shakila
Sejarah Eropa kuno biasanya diawali oleh cerita-cerita dari
Pulau Kreta yang kemudian diikuti oleh kebudayaan Yunani dan Romawi.
Kerajaan-kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya beberapa abad sebelum Masehi
dan menjadi kebanggaan orang-orang barat hingga hari ini. Semua kerajaan ini
terletak di sekitar Laut Tengah atau Laut Mediteran. Namun, sebenarnya orang
barat bukan hanya orang yang berasal dari daerah ini. Ada orang-orang Eropa
yang berada di bagian utara dan barat yang merupakan nenek moyang bangsa Eropa
saat ini. Lalu, ada di mana mereka dalam peradaban umat manusia saat itu?
Sebagian bangsa yang mendiami banyak daratan Eropa hingga
abad pertengahan merupakan suku-suku Barbar dan nomaden. Mereka merupakan
keturunan ras Arya dan telah datang ke daratan Eropa ribuan tahun yang lalu.
Setelah tersebar ke seluruh daratan Eropa dan menyesuaikan dengan keadaan
lingkungan mereka, mereka mulai mengembangkan bahasa dan kebudayaan mereka
sendiri-sendiri.
Salah satu teori menjelaskan bahwa orang-orang Arya pada
awalnya berasal dari India dan menemukan jalan mereka ke Eropa. Banyak dari
mereka pergi terus ke utara dan menetap di sana sebagai pelaut. Orang-orang ini
menempati daerah Skandinavia dan Laut Baltik. Mereka disebut sebagai Viking.
Selain pandai berburu, orang-orang ini merupakan pelaut yang handal dan
pemberani. Pelayaran mereka telah membawa mereka sampai ke benua Amerika jauh
sebelum Colombus mencapai sana berabad-abad kemudian.
Orang-orang Arya ini kemudian menyebar ke seluruh penjuru
Eropa dan terus berjalan ke selatan mencari daerah jajahan baru sebagai tempat
kehidupan yang lebih layak. Bangsa Arya ini masih merupakan orang yang kurang
berperadaban. Mereka adalah kumpulan orang Barbar yang gemar berperang dan
percaya pada banyak hal-hal mistis. Mereka adalah para petarung yang kuat. Orang-orang
ini berbadan besar dan menyukai tantangan. Sejarah persebaran mereka ke seluruh
penjuru Eropa adalah kisah tentang kepahlawanan dan menjadi epik heroik yang
diceritakan lisan anak cucu mereka secara turun temurun hingga hari ini.
Zaman Kegelapan
Pasca runtuhnya kebudayaan maju bangsa Yunani, berbagai
kerajaan di Eropa mencapai puncak kejayaannya. Bangsa Macedonia contohnya. Di
bawah pimpinan Alexander, Macedonia telah menjadi salah satu buah bibir yang
paling agung dalam sejarah barat pasca Yunani. Namun tidak ada yang melebihi
kebesaran bangsa Romawi setelah itu. Romawi mendirikan kekaisaran yang sangat
besar dan menjadi penguasa tunggal Eropa selama lebih dari delapan abad.
Pada abad kelima Masehi, kekaisaran Romawi mulai limbung dan
kehilangan kekuatan. Orang-orang Barbar dari berbagai suku mulai merongrong
kekuasaan Romawi dan menancapkan pengaruh mereka. Orang-orang Barbar yang
kurang berperadaban ini mulai menghancurkan tatanan birokrasi dan kebudayaan
tinggi orang Romawi. Mereka telah menenggelamkan Eropa pada zaman kekacauan dan
kehancuran. Setelah itu, kisah orang barat hanyalah kisah yang jarang tercatat
dalam sejarah. Masa yang dikenal sebagai zaman kegelapan. Zaman ini merupakan
kemunduran orang Barat hingga terjadinya Renaissans di akhir abad pertengahan.
Orang-orang Arya di Eropa yang berkelana dan menyebar di
seluruh kekuasaan Romawi Eropa ini dikenal juga sebagai bangsa German. German
di sini tidak hanya meliputi orang-orang yang mendiamai wilayah negara Jerman
hari ini, tetapi juga meliputi suku-suku lain yang berasal dari nenek moyang
Arya yang sama. Beberapa suku bangsa German yang besar dan berpengaruh dalam
sejarah Eropa di zaman kegelapan diantaranya adalah Frank, Saxon, Vandal, dan
orang-oran Goth yakni Visgoth dan Ostrogoth. Mereka memiliki kepercayaan
Arianis yang pagan dan banyak percaya hal-hal mistis.
1.
Frank
Orang-orang Frank adalah salah satu suku German paling
berpengaruh dalam sejarah Eropa. Mereka mendiami wilayah Galia di sekitar
Perancis dan menjalin hubungan yang intens dengan orang-orang Romawi yang lebih
berperadaban. Karena letak Galia yang tidak terlampau jauh dari pusat kekuasaan
kekaisaran Romawi, orang Frank banyak terpengaruh oleh kebudayaan Romawi.
Perlahan tapi pasti mereka menyesuaikan diri dengan kebudayaan Romawi dan mulai
membangun peradaban yang lebih stabil.
Kerajaan orang Frank berkembang dengan lambat tapi pasti.
Mereka memiliki peradaban yang lebih stabil dibandingkan dengan suku-suku
German yang lain. Sebagian mereka tetap bertahan hingga saat ini dan menjadi
mayoritas orang barat di negara-negara sekitar Galia yang saat ini dikenal
menjadi Perancis, Belgia, dan Jerman.
Meskipun orang Frank di Galia hidup dalam bayang-bayang
kekaisaran Romawi, orang Frank tidaklah terlalu suka pada Romawi. Mereka tetap
menjaga kekhasan suku mereka sendiri dan berencana keluar dari kekuasaan
kekaisaran. Pada pertengahan abad keenam Masehi, orang-orang Frank membelot
dari kekaisaran dan mendirikan kerajaan sendiri. Mereka menganggap bahwa
dirinya adalah orang-orang ksatria yang kuat, pemberani, dan tangguh meskipun
sebenarnya mereka lebih tepat dikatakan lambat dan berhati-hati karena
kepandaiannya berdiplomasi dan mengambil keuntungan saat ada kesempatan.
2.
Saxon
Berbeda dengan suku German yang lain, orang Saxon lebih
memilih untuk pergi ke sebuah tempat yang lebih terpencil. Mereka bermaksud
menguasai pulau yang jauh dari kekaisaran Romawi dan wilayah Romawi yang tidak
terlalu diawasi karena letaknya di seberang lautan. Orang Saxon mendatangi
daerah Briton atau Inggris saat ini. Mereka menjajah penduduk asli setempat dan
menjarah tanah dan harta benda orang-orang Briton. Bersama dengan orang Anglia,
Saxon menancapkan pengaruh yang kuat pada daerah jajahannya tersebut.
Orang-orang Briton asli bukannya tidak melawan kedatangan
orang Anglo-Saxon itu. Namun mereka tidaklah cukup kuat untuk menahan gempuran
suku Barbar ini. Salah satu perlawanan paling hebat dan paling heroik orang
Briton saat menahan gempuran Anglo-Saxon adalah perlwanan yang dipimpin oleh
raja mereka yang masyhur yakni Raja Arthur bersama para Ksatria Meja Bundarnya.
Meskipun sempat memberikan perlawanan yang kuat, pada akhirnya daratan Briton
berhasil takluk oleh orang Saxon dan Anglia. Setelah itu, orang-orang Anglia
menamakan daerah ini sebagai daratan orang Anglia dan diberi nama Anglia-Land
atau England.
Orang Saxon memaksakan bahasa dan kebudayaan mereka melebihi
orang-orang dari suku German manapun pada daerah jajahannya di Briton. Pengaruh
mereka semakin kuat pada daerah ini karena pengaruh penguasa Romawi sebelumnya
tidaklah kuat pada daerah kekuasaannya yang jauh di seberang lautan ini. Dari
segi kepercayaan, aliran kristen Anglia yang Arianis juga banyak berkembang
menggantikan keyakinan katolik Romawi yang sebelumnya dianut oleh orang-orang
asli Briton.
3.
Visigoth
Orang-orang Visigoth pada awalnya menempati wilayah Balkan.
Karena letaknya yang dekat dengan pusat kekaisaran Romawi, Visigoth sering
menjadi sekutu kekaisaran dalam menumpas pemberontakan. Namun, kekaisaran juga
sangat menaruh curiga pada orang Goth ini karena kedekatannya dianggap dapat
menjadi ancaman.
Pada awal abad kelima, orang-orang Visigoth memilih seorang
raja untuk memimpin mereka yang bernama Alarik. Awalnya Alarik adalah sekutu
Romawi dan mencoba mencari muka di hadapan Kaisar untuk mendapatkan tanah di
daerah Italia. Namun karena permintaannya selalu ditolak, Alarik akhirnya
memimpin pemberontakan dan mengepung pusat kekaisaran di Roma hingga
berbulan-bulan. Keadaan ini membuat orang-orang Roma kelaparan dan terpaksa
memberi jalan bagi Alarik dan orang-orang Visigoth untuk masuk kota Roma.
Orang-orang Visigoth yang Barbar itu masuk dan menjarah kota Roma. Pusat
peradaban kekaisaran Roma itu pun jadi bahan jarahan orang-orang tak beradab
sehingga masa ini menjadi salah-satu masa paling kelam dalam sejarah Romawi.
Kejadian itu berlangsung pada sekitar tahun 410 M.
Orang-orang Visigoth terus bermigrasi dan menyebar hingga ke
wilayah Galia Selatan dan mencapai Spanyol. Tersebarnya orang Goth ini
menyebabkan mereka banyak berinteraksi dengan kebudayaan Galia-Romawi yang
telah mapan dan lebih beradab. Mereka banyak belajar tentang cara bercocok
tanam yang baik dan mulai menggunakan bahasa Latin. Orang-orang Goth ini
berbaur dan saling bertukar kebiasaan dengan orang asli Galia-Romawi. Orang Galia-Romawi
misalnya, menjadi lebih urakan setelah bersentuhan dengan orang Goth. Wanita
Galia-Romawi ini menjadi suka pada perhiasan orang Goth yang besar dan
berkilau-kilauan.
4.
Vandal
Orang Vandal tidak melihat kesempatan untuk menempati daerah
Galia yang telah dihuni dan dikuasai oleh orang Romawi dan orang Goth. Mereka
lebih memilih untuk pergi ke daerah kekuasaan Romawi yang kaya di Afrika Utara.
Daerah di kawasan ini merupakan daerah yang subur dan menjadi pensuplai gandum
bagi orang Romawi. Di bawah pimpinan Gaiserik, orang Vandal yang barbar ini
dengan cepat menguasai Afrika Utara dan menguasai kekayaan alamnya. Meskipun
begitu, seperti semua suku German yang lain, karena lebih bodoh, mereka tetap
mempekerjakan orang-orang Romawi untuk megurus masalah birokrasi.
Tidak puas berhasil menguasai Afrika Utara, orang Vandal
bergerak memasuki Italia dan menginginkan Roma. Romawi tidak tinggal diam.
Seorang bangsawan Romawi yang sangat lihai berdiplomasi dan mengatur strategi
bernama Aetius memanfaatkan orang Hun dari Eropa Tengah untuk memadamkan
pemberontakan ini. Alih-alih membantu, orang Hun di bawah pimpinan rajanya yang
sangat masyhur berama Atilla justru menginginkan kekuasaan Romawi. Kekisruhan
di kekaisaran yang berujung pada meninggalnya Kaisar, Aetius, dan Atilla telah
memberi kesempatan bagi Gaiserik untuk masuk ke dalam kota Roma. Penjarahan
hebat kembali terjadi saat orang-orang Vandal masuk ke kota tua Roma tahun 455
M. Kegiatan perusakan dan penjarahan ini diabadikan menjadi istilah vandalisme
yang digunakan untuk suatu kegiatan perusakan terhadap fasilitas umum yang
sudah terpasang dengan baik.
Setelah takluknya Roma, praktis orang German telah menguasai
seluruh Eropa Barat. Namun tetap saja, orang-orang German masihlah menganggap
diri mereka barbar dan tidak pantas menguasai Romawi. Mereka tetap memilih
orang Romawi sebagai penguasa boneka dengan maksud merebut hati rakyat agar
tetap mau taat pada kekaisaran. Hingga terpilihlah Odoacer sebagai penguasa
Vandal yang menjadi jenderal Romawi. Tidak seperti penakluk dari German
sebelumnya yang masih menganggap kekuasaan tetap harus dipegang oleh orang
Romawi, Odoacer memutus dinasti kekaisaran Romawi dan menunjuk dirinya sebagai
penguasa kekuasaan Romawi. Dengan ini, maka berakhirlah kekuasaan Romawi Barat.
5.
Ostrogoth
Kekaisaran Romawi sejak abad ketiga Masehi memiliki dua
pusat. Selain kekaisaran Romawi Barat di Roma, terdapat pula Kekaisaran Romawi
Timur yang berpusat di Konstantinopel yang saat ini dikenal sebagai Istanbul.
Kaisar Zeno di Konstantinopel tidak suka melihat kekaisaran leluhurnya di
Italia dikuasai oleh orang-orang German. Melihat ini, ia merasa harus
mengirimkan pasukan ke sana untuk membebaskan Romawi Barat dari cengkeraman
orang-orang German yang barbar itu dan menguasainya sebagai kekuasan Romawi
Timur.
Seperti halnya strategi orang Romawi yang umum digunakan,
Kaisar menggunakan cara perpecahan dan belah bambu. Ia meminta suku German
lainnya, yakni Ostrogoth, untuk menyerang Italia. Ostrogoth yang saat itu
dipimpin oleh Theodorik, seorang yang dibina dan dibesarkan oleh kekaisaran
Romawi Timur, berangkat menuju Italia dengan membawa pasukan yang sangat besar.
Setelah menundukkan orang-orang Vandal yang telah melemah karena keserakahan
mereka sendiri di Afrika Utara, Theodorik menuju Italia dan berperang melawan
orang-orang German di sana. Theodorik berhasil mengalahkan sesama orang German
dan segera menjadi penguasa di kawasan kekuasaan Romawi Barat.
Karena dibesarkan dan berhutang budi oleh Romawi Timur,
Theodorik menganggap kekuasaaannya berada di bawah Romawi Timur. Ia juga
menjalankan kekuasaannya dengan prinsip-prinsip birokrasi kekaisaran Romawi.
Theodorik dikenal sebagai raja yang memimpin dengan bijak. Ia juga lebih
memfokuskan pembangunan pada tempat-tempat kebudayaan dan kesenian seperti
halnya yang menjadi ciri khas kekuasaan Romawi. Masa saat Theodorik memerintah
dikenal sebagai Masa Pencerahan atau Renaissans pertama bagi orang barat.
sumbernya?
ReplyDelete