Saturday, January 9, 2016

Peradaban Pulau Kreta, Yunani

Oleh : Tito Erian

Kreta adalah pulau terbesar yang terletak di selatan pulau Yunani. Peradaban pulau kreta disebut-sebut sebagai cikal-bakal peradaban Yunani yang muncul sekitar tahun 3000-1400 SM. Letak pulau kreta sangat strategis, yakni di tengah-tengah jalur pelayaran antara Mesir, Yunani, dan Mesopotamia. Keadaan alam yang demikian mengakibatkan mayoritas penduduk pulau ini bermata pencaharian sebagai pedagang dan melakukan kegiatan pelayaran. Selain itu, pulau Kreta juga menjadi jembatan budaya antara Asia, Afrika, dan Eropa.
Orang-orang Kreta atau juga disebut orang-orang Minoa mengenal bentuk tulisan Minos. Nama minos berasal dari nama seorang raja besar di pulau kreta yang bernama Minos. Kebudayaan pulau kreta seringkali disebut sebagai kebudayaan Minoa.
Orang-orang Kreta pandai membuat gelas, alat senjata, karya seni lukis Fresko, seni porselin (gerabah), seni pahat, seni kerajinan logam, dan berbagai arca untuk kegiatan keagamaan serta memproduksi pakaian. Masyarakat Minoa sudah menunjukkan tingkat peradaban yang tinggi, menjalin hubungan ekonomi dengan rakyat tetangga. Secara politis, wilayah kreta terbagi dalam komunitas-komunitas kecil, merupakan negara-negara kota yang terkenal seperti Knossos, Phaistos, Gortyna, dan Gournia.
Pada kota Knossus ditemukan reruntuhan istana Knossus yang berbentuk Labyrinth (rumah siput). Labyrinth berasal dari kata labrys yang berarti “mudah tersesat”. Bangunan istana didesain sedemikian rupa agar seseorang yang masuk akan mudah tersesat karena susunan kamar-kamar, ruangan, dan lorongnya banyak dan berliku-liku untuk menghalangi para penjahat yang masuk istana dan ingin menjarah kekayaan istana.
Menurut para arkeolog, peradaban orang-orang kreta secara kronologis dibagi ke dalam tiga periode, yaitu :
1.      Minoa awal (3400-2100 sebelum Masehi) dimulai zaman Tembaga dan beakhir pada penggunaan alat-alat dari zaman perunggu.
2.      Minoa Madya (2100-1600 sebelum Masehi), zaman ini ditandai dengan didapatkannya perkembangan bidang seni dan ditemukannya reruntuhan kerajaan Knossos.
3.      Minoa Akhir (1600-1200 sebelum Masehi), hal ini ditandai dengan masa puncak perkembangan kultural dan stagnansi akhir.

Kebudayaan kreta mengalami kehancuran akibat bencana alam yaitu ledakan gunung api yang maha dahsyat dari pulau Thera yang hanya berjarak 60 mil dari pulau kreta dan satu kali gelombang tsunami yang belum pernah terjadi sebelumya. Faktor lain adalah invasi bangsa pendatang yang berasal dari ras Indo-Jerman di Asia tengah yang  bergerak ke Yunani kemudian ke pulau Kreta

Referensi:
Wahjudi Djaja – Sejarah Eropa, “dari Eropa Kuno hingga Eropa Modern”

Friday, January 8, 2016

Sejarah Feminisme di Eropa

Oleh: Dina Farhana

            Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Feminisme berasal dari bahasa Latin, femina atau perempuan. Istilah ini mulai digunakan pada tahun 1890-an, mengacu pada teori kesetaraan laki-laki dan perempuan serta pergerakan untuk memperoleh hak-hak perempuan.
Sebelum feminis digunakan sebagai ungkapan  umum dalam bahasa inggris, kata-kata seperti “womanism, the woman movement, atau woman questions telah digunakan terlebih dulu.[1] Kata “feminist” pertama kali ditemukan pada awal abad ke 19 oleh seorang sosialis berkebangsaan Perancis, yaitu Charles Fourier. Ide yang diusungnya adalah transformasi perempuan oleh masyarakat berdasarkan saling ketergantungan dan kerjasama, bukan pada kompetisi dan mencari keuntungan.  Pemikirannnya ini mempengaruhi banyak perempuan dan mengkombinasikan antara emansipasi pribadi dengan emansipasi  sosial.
Gerakan feminis pada mulanya adalah  gerak sekelompok aktivis perempuan barat, yang kemudian lambat laun menjadi gelombang akademik di universitas-universitas, termasuk  negara-negara Islam, melalui program ”woman studies”.  Gerakan perempuan  telah mendapat “restu”  dari  Perserikatan Bangsa Bangsa perempuan dengan dikeluarkannya CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women). Negara dan lembaga serta organisasi-organisasi di dunia terus mendukung gerakan-gerakan perempuan , walaupun  menurut Khan dukungan tersebut memiliki efek negatif bagi gerakan perempuan (baca-feminisme) karena aktivis perempuan telah kehilangan sudut pandang politik (political edge) dan juga untuk beberapa kasus telah kehilangan komitmennya.[2]
            Untuk mengetahui bagaimana feminisme itu lahir dan berkembang, kita harus melihat kondisi Barat (dalam hal ini Eropa) pada abad pertengahan, yaitu masa ketika suara-suara feminis mulai terdengar. Pada Abad pertengahan, gereja berperan sebagai sentral kekuatan, dan Paus sebagai pemimpin gereja, menempatkan dirinya sebagai pusat dan sumber kekuasaan. Sampai abad ke-17, gereja masih tetap mempertahankan posisi hegemoninya, sehingga berbagai hal yang dapat menggoyahkan otoritas dan legitimasi gereja, dianggap seabagai heresy dan dihadapkan ke Mahkamah Inkuisisi.[3]
            Menurut  McKay, pada dekade 1560 dan 1648 merupakan penurunan status perempuan di masyarakat Eropa. Reformasi yang dilakukan para pembaharu gereja tidak banyak membantu nasib perempuan.  Studi-studi spiritual kemudian dilakukan  untuk memperbaharui konsep   Saint Paul’s tentang perempuan, yaitu perempuan dianggap sebagai sumber dosa dan merupakan makhluk kelas dua di dunia ini. Walaupun beberapa  pendapat pribadi dan hukum publik yang berhubungan degan status perempuan di barat cukup bervariasi, tetapi terdapat bukti-bukti kuat yang mengindikasikan bahwa perempuan telah dianggap sebagai makluk inferior.  Sebagian besar perempuan diperlakukan sebagai anak kecil-dewasa yang bisa digoda atau dianggap sangat tidak rasional. Bahkan pada tahun 1595, seorang profesor dari Wittenberg University melakukan perdebatan  serius mengenai apakah perempuan itu  manusia atau bukan. Pelacuran merebak dan dilegalkan oleh negara. Perempuan menikah di abad pertengahan juga tidak memiliki hak untuk bercerai dari suaminya dengan alasan apapun.[4]
            Latar belakang yang kelam memicu semangat para perempuan-perempuan yang ingin terbebas dari kekangan gereja maupun pihak laki-laki yang menempatkan perempuan dalam derajat yang rendah. Selama masa abad pertengahan aktifitas perempuan juga sangat dibatasi. Termasuk salah satunya dalam hal intelektual. Maka bisa dilihat bahwa pada abad pertengahan jarang sekali ditemukan seorang ilmuwan perempuan, kebanyakan yang dikenal adalah ilmuwan laki-laki. Hal ini tidak terlepas dari dominasi gereja yang menggap perempuan sebagai sesuatu yang hina.
Revolusi yang terjadi di Eropa membuat gerakan perempuan mendapatkan kesempatan untuk ikut menyuarakan kepentingan mereka. Pada Revolusi Puritan di  Inggris Raya pada abad 17,  kaum perempuan puritan  berusaha untuk mendefinisikan ulang area  aktivitas perempuan dengan menarik legitimasi dari doktrin-doktrin yang menjadi otoritas bapak, laki-laki, pendeta dan pemimpin politik. Revolusi Puritan telah menghasilkan ferment  dimana semua bentuk hierarki ditulis oleh semua anggota sekte yang radikal di Inggris Raya.[5] Pada tahun 1890, kata feminis digunakan  untuk mendeskripsikan kampanye perempuan pada  pemilihan umum  ketika  banyak organisasi telah didirikan  di Inggris untuk menyebarkan ide liberal tentang hak individual perempuan.[6]
Revolusi Perancis (1789) juga  telah memberi pengaruh besar pada gerakan perempuan di Barat. Kaum perempuan saat itu terus bergerak memanfaatkan gejolak politik di tengah revolusi yang mengusung isu liberty, equality dan fratenity. Pada bulan oktober 1789 perempuan – perempuan pasar di Perancis berjalan dari Versailles yang diikuti oleh pasukan keamanan nasional. Roti hilang dari pasaran, para perempuan miskin kemudian melakukan aksi masa  menuntut Raja agar mengontrol harga dan konsumsi dan  menyediakan roti murah bagi rakyat.  Di Perancis. Saat itu masyarakat terpecah menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok moderat yang masih menghendaki Konsitusi Monarki dan kelompok radikal yang mengingikan Monariki berakhir. Gerakan perempuan aktif mendukung kelompok radikal yang mendukung ide-ide Republik, walaupun kemudian akhirnya mereka terlibat dalam pertikaian politik antar faksi-faksi yang ada. Dan akhirnya pada tahun 1792, kaum perempuan memperoleh hak untuk bisa  bercerai dengan suaminya.[7]
            Pada awal abad 20 “Feminisme” digunakan di Amerika dan Eropa untuk mendeskripsikan elemen khusus dalam pergerakan perempuan yang menekankan pada keistimewaaan” dan perbedaan perempuan, dari pada mencari kesetaraan. Feminisme digunakan untuk mendeskripsikan tidak hanya kampanye politik untuk pemilihan umum tetapi juga hak ekonomi dan sosial, seperti  pembayaran yang setara (equal pay) sampai KB atau (birth control). Dari sekitar perang dunia I, beberapa perempuan muda meyakinkan  bahwa feminisme saja tidak cukup, kemudian mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai feminis sosialis. Kaum sosialis perempuan yang lain menentang feminisme. Mereka melihat feminisme hanya mengespresikan secara eklusif kepentingan perempuan kelas menengah dan professional.[8]
            Berdirinya gerakan Feminisme di Eropa merupakan salah satu dampak dari ketertindasan perempuan dalam dominasi peran gereja, bagaimana perempuan diposisikan dalam suatu derajat yang rendah. Kaum Feminisme ini menyatakan dirinya sebagai gerekan pembebasan perempuan. Namun hingga kini Gerakan Feminisme itu masih tetap ada dan bahkan meluas sampai kepada indonesia. Jika dulu gerakan ini hanya bertujuan untuk mendapatkan hak dan kebebasan perempuan, namun pada awal abad 20 Feminisme mengusung konsep gender equality sebagai gagasan utama dalam gerakan mereka.
            Salah satu efek dari paham relativisme yang dianut oleh kaum feminis, adalah  menyuburkan praktik-praktik homoseksual di dalam  masyarakat,  karena apa yang dulu dianggap salah, kini  dengan dalih penghormatan terhadap HAM,  telah berubah menjadi sebuah kebenaran.  Di Barat, pasangan lesbi kini dapat menikah secara legal dan diakui oleh negara secara sah.  Para feminis radikal berpendapat dominasi laki-laki berpusat dari seksualitas, karena dalam hubungan heteroseksual, perempuan menjadi pihak yang tersubordinarsi   Tetapi dengan menjadi lesbi, perempuan  memiliki kontrol yang sama dan tidak ada dominasi dalam hubungan seksual diantara mereka . Hal itu tertuang dalam pernyataaan Charlotte Bunch (1978).
            Melihat latar belakang sejarah, konsep dan isu-isu  feminisme, perempuan di dunia Islam sebenarnya tak perlu silau oleh pemikiran-pemikiran kaum feminis. Isu hak dan kesetaraan yang diagung-agungkan barat,  muncul karena penolakan perempuan barat terhadap dokrin gereja yang memarginalkan kaum perempuan selama berabad-abad.  Doktrin gereja telah pengekangan hak-hak perempuan untuk mengembangkan diri dan memiliki akses  kepada pendidikan. Begitu juga dengan hak-hak sipil perempuan yang terpinggirkan karena perempuan dipandang sebagai masyarakat kelas dua.  Tentunya hal-hal tersebut tidak ditemui dalam ajaran dan doktrin-doktrin Islam.  Agama  Islam sejak abad ke-7 M telah menepatkan perempuan dalam posisi yang begitu mulia, seperti pendapat beberapa wanita Barat yang memeluk agama Islam karena tertarik oleh keadilan dan kemuliaannya. Annie Besants berkata tentang wanita Islam, ”Sesungguhnya kaum wanita dalam naungan Islam jauh lebih merdeka dibandingkan dalam mazhab-mazhab lain. Islam lebih melindungi hak-hak wanita daripada agama Masehi. Sementara kaum wanita Inggris tidak memperoleh hak kepemilikan-kecuali sejak 20 tahun yang lalu-Islam telah memberikan sejak saat pertama.”[9]





[1] Rowbotham, Sheila,  Women in Movement: Feminism and social action, Rountledge, New York, 1992, hal. 11.
[2] Suki Ali,et all (ed),  Global Feminist Politics ; Identities in Changing World, Routledge, New York, 2000, hal. 5.
[3] Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik Yahudi, Kristen, Islam, Gema Insani Press, 2004, hal: 158-159 
[4] McKay, John P, Bennet D. Hill and John Buckler,  A History of Western Society, Second Edition, Houghton Mifflin Company, Boston, 1983, hal. 437 s/d 541
[5] Rowbotham, Sheila,  Women in Movement: Feminism and social action, Rountledge, New York, 1992, hal. 8.
[6] Ibid, hal 19.
[7] Ibid, hal 27-29.
[8] Rowbotham, Sheila, hal. 9.
[9] Ahmad Muhammad Jamal, Jejak  Sukses 30 Wanita Beriman, Pustakan Progressif, Surabaya, 1991, hal.1.

Arc De Triomphe De Paris

Oleh : Naufal Faris Amal

Sebuah icon yang terkenal dari paris selain la tour eiffel. yaitu arc de triomphe. sebuah gapura yang dinamakan gapura kemenangan oleh masyarakat perancis. monumen ini terletak di bunderan atau berdiri di tengah area Place de l'Étoile terletak di bukit chaillot yang tepat di tengah-tengah persimpangan dua belas jalan, yaitu avenue des Champs-Élysées sebagai jalan utamanya dan avenue de la grande-armee. lalu avenue marceau, avenue d'lena, avenue kleber, avenue victor hugo, avenue foch, avenue carnot, avenue mac-mohan, avenue wagram, avenue de friedland, dan avenue hoche.
Pembangunan monumen ini telah direncanakan sejak 1806 oleh Napoleon setelah kemenangannya di Pertempuran Austerlitz. Proses penyelesaian konstruksi fondasi dasar monumen ini memakan waktu selama 2 tahun pengerjaan, dan ketika Napoleon memasuki kota Paris dari barat bersama Archduchess Marie-Louise dari Austria pada tahun 1810, ia sudah bisa melihat monumen ini terbentuk dr kontruksi kayunya.
Arsitek dari monumen ini, Jean Chalgrin meninggal pada tahun 1811. Pengerjaan pembangunan monumen ini dilanjutkan oleh Jean-Nicolas Huyot. Selama masa restorasi Bourbon di Perancis, pembangunan monumen ini sempat dihentikan dan tidak dilanjutkan sama sekali sampai masa pemerintahan Raja Louis-Philippe di tahun 1833-36. Jenazah Napoleon pernah dibawa melewati monumen ini pada 15 Desember 1840 di dalam perjalanan menuju dimakamkan di Invalides.
Monumen yang tingginya 51 meter dan lebar 45 meter ini disamping sebagai pintu gerbang kota Paris, juga sebagai tempat untuk meletakkan prasasti para Pejuang yang tidak dikenal dan sering dijadikan sebagai tempat berziarah dan peletakan karangan bunga. sebenarnya arc de triomphe adalah sebuah monumen yang dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte untuk mengenang jasa-jasa tentara kebesarannya.




Thursday, January 7, 2016

Perang Peloponnesos

Perang Peloponnesos
Oleh Hana Fazrina

      Perang Peloponnesos (431–404 SM) adalah konflik militer pada zaman Yunani Kuno, terjadi antara Athena dan kekaisarannya melawan Liga Peloponnesos, dipimpin Archidamia. Sparta melancarkan invasi ke Attica, sementara Athena mengambil kesempatan keunggulan angkatan lautnya dan menyerang pantai Peloponnesos untuk menekan mereka. Periode perang ini berakhir pada tahun 421 SM, dengan ditandatanganinya Perjanjian Nicias. Namun, pertempuran kembali meletus. Pada tahun 415 SM, Athena melakukan invasi besar-besaran ke Syracusa di Sisilia. Serangan ini gagal, dengan kehancuran seluruh tentara tahun 413 SM. Kegagalan ini diikuti dengan fase ketiga perang, yang disebut Perang Decelea atau Ionia. Sparta, yang menerima dukungan dari Persia, mendukung pemberontakan di Athena, menghalangi keunggulan angkatan laut Athena. Kehancuran angkatan laut Athena di Aegospotami mengakhiri perang, dan Athena menyerah pada tahun berikutnya.
      Alasan utama Perang Peloponnesia disebabkan ketakutan Sparta akan kekuasaan Athena yang tumbuh kuat dan ekonomi yang makmur. Athena menguasai sebagian besar wilayah Mediterania bersama dengan Yunani/Hellas, 50 tahun sebelum perang. Menurut Thucydides (seorang sejarawan Yunani dan penulis dari Alimos) bahwa setelah Athena menjadi pemimpin sekutu Delian, mereka memiliki kekuasaan tertinggi yang dikenal sebagai Kekaisaran Athena. Mereka hampir mengusir Persia dari daerah mereka di Aegean dan supremasi wilayah yang diduduki lebih banyak. Kekuatan angkatan laut Athena juga berkembang hari demi hari dan membahayakan negara-negara perbatasan. Selama Perang Persia pada tahun 480 SM kekuasaan Athena telah tumbuh dengan pesat, dan dengan bantuan sekutu Athena melanjutkan serangannya ke wilayah-wilayah Persia dari Ionia dan Aegea. Athena juga membangun tembok di sekitar wilayah bisnisnya untuk menyelamatkan mereka dari serangan darat Sparta ketika Persia meninggalkan Yunani. Keadaan ini membuat marah Spartan tapi tidak mengambil tindakan apapun pada waktu itu. Tahun 459 SM Athena mengambil keuntungan antara Megara dan Corinth berpihak dengan Megara. Hal ini membantu mereka mendapatkan wilayah di Isthmus Corinth yang mengakibatkan perang, dikenal sebagai ‘Perang Peloponnesia I (Pertama)’ terjadi antara Athena dengan Sparta, Corinth, Aegea dan negara-negara lain. Pada akhir perang Peloponnesia, Athena mundur dari daratan Yunani karena serangan besar Spartan. Perjanjian Damai 30 tahun ditandatangani antara Athena dan Sparta pada tahun 446 SM. Perang Peloponnesia (431-404 SM) terjadi antara kekaisaran Athena dan sekutu Peloponnesia yang dipimpin Sparta. Sekutu Peloponnesia merupakan koalisi dari Thebes, Corinth dan Sparta. Perang Peloponnesia dibagi menjadi 3 fase yaitu Perang Archidamian, Perang Sisilia dan Perang Ionia (Decelean). Perang dimulai pada tanggal 4 April 431 SM ketika orang-orang Thebes meluncurkan serangan mendadak ke Plataea yang juga sebagai mitra Athena. Perang Peloponnesia berakhir pada tanggal 25 April 404 SM ketika Athena menyerah, Peloponnesia kemudian merenovasi kota-kota Yunani secara keseluruhan. Kekaisaran Athena merupakan pihak yang lebih kuat sebelum perang, kemudian dikurangi dan menjadi budak Sparta. Setelah perang, Sparta merupakan negara penguasa Yunani, perang Peloponnesia menghancurkan ekonomi dan membawa kemiskinan dan penderitaan pada bangsa Yunani. Athena tidak pernah lagi mendapatkan kemakmuran seperti sebelumnya setelah Perang Peloponnesia.



Sumber : Sejarah Dunia, Perang Peloponnesia

Masa “Aufklarung”

Masa “Aufklarung”
Oleh Nurhalimah

      Masa Aufklarung meliputi abad 18 Aufklarung berarti “pencerahan” (orang Inggris menggatakan: “Enlightenment”). Nama tadi diberikan kepada jaman ini, karena manusia mencari cahaya baru dalam rasionya. Immanuel Kant telah memberikan semacam definisi. Katanya: “Dengan Aufklarung dimaksudkan bahwa manusia keluar dari kedaan tidak akil balig (bahasa Jerman : Ummundigkeit), yang dengannya ia sendiri bersalah”. Apa sebabnya manusia sendiri bersalah? Karena ia tidak menggunakan kemungkinan yang ada padanya, yaitu rasio. Oleh karenanya semboyan Aufklarung menjadi : “Sapere aude”!  Hendaklah anda berani berpikir sendiri! Dengan demikian masa pencerahan merupakan tahap baru dalam proses emansipasi Barat yang sudah dimulainya sejak Renaissance dan Reformasi.
         Kepercayaan akan rasio dalam abad 18 sangat dimajukan oleh perkembangan ilmu pengetahuan pada waktu itu. Pada tahun 1687 Isaac Newton (1642-1727) telah mendasarkan fisika klasik dengan bukunya Philosophiae naturalis principia mathhematica (ilmu pengetahuan alam berdasarkan prinsip-prinsip matematisnya). Sejak saat itu ilmu pengetahuan berkembang pesat. Hampir setiap tahun dalam abad 18 dihasilakan penemuan ilmiah yang baru. Pada waktu itu juga timbul usaha untuk mengumpulkan segala pengetahuan dengan cara sistematis. Itu berarti lahirnya ensiklopedi. Encyclopedia Britannica misalnya untuk pertama kalinya diterbitkan pada tahun 1768. Dengan demikian seluruh jaman ini menaruh optimisme  besar terhadap manusia, kemampuannya dan masa depannya.
       Pada umumnya tidak boleh dikatakan bahwa jaman ini tidak beragama. Tetapi jelas sekalialah kecendrungan untuk meluputkan diri dari kewibawaan Wahyu Ilahi dan Gereja. Yang terutama diminati ialah suatu agama kodrati yang berdasarkan rasio. Antikristianisme dan antikleikalisme dalam jaman pencerahan terutama tampak di Prancis. Nasib yang menimpa Ordo Yesuit dapat dianggap sebagai simbol bagi seluruh gerakan antigerejawi ini. Pada tahun 1764 Pater-pater Yesuit  diusir dari Prancis (dari Portugal sudah pada tahun 1759) dan akhirnya pada tahun 1773 Paus Klemens XIV dipaksakan membubarkan seluruh Ordo Yesuit. Contoh lain yang menggambarkan suasana di Prancis pada waktu itu adalah kejadian dalam Gereja Katedral Notre Dame di Paris pada tahun 1793, ketika Tuhan dari agama kristen secara resmi diganti denga Rasio sebagai dewa baru.
Gerakan Aufklarung mulai berkembang di Inggris, dimana suasana politik menginzinkan pemikiran bebas, karena sejak tahun 1693 undang-undang menjamin kebebasaan mencetak. Dari sana gerakan intelektual ini berpindah ke Prancis, diamana prinsip-prinsip diperkembangkan secara radikal sekali. Dengan cara tidak langsung masa Pencerahan merintis jalan bagi Revolusi Prancis yang akan datang (tahun 1789). Di Jerman gerakan Aufklarung berlangsung dengan lebih tenang.

Sumber: Bertens, Dr. K. 1991. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanius.



Kehadiran Islam di Eropa




Oleh: Juwita Putri Morjani



“The rise and spread of Islam brought an alien and disruptive force which finally broke the unity of the Mediterranean world.”[1]
Samuel Huntington dalam bukunya Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia, mengutip Melko mengatakan di dunia ini ada 12 peradaban, 7 peradaban sudah tidak eksis (Mesopotamia, Mesir, Kreta, Klasik, Byzantine, Amerika Tengah, dan Andea), sedangkan lima peradaban masih eksis (Tionghoa, Jepang, India, Islam, dan Barat). Samuel Huntington sendiri menyebutkan ada delapan peradaban besar, yaitu Barat, Konfusius, Jepang, Islam, Hindu, Slavik, Ortodoks, Amerika Latin, dan Afrika. Dari peradaban-peradaban tersebut akan terjadi vis a vis yang memunculkan perbenturan. Selanjutnya ia mengatakan potensi itu akan terjadi antara Barat dengan koalisi Islam-Konfusius.[2]
            Persinggungan antara negara-negara Barat dan negara Timur (Islam), bukan pertama kali terjadi. Jauh sebelum lahirnya Karl Marx, yang menjadi peletak dasar Komunisme, hingga kemudian mengawali lahirnya perseteruan ideologis dengan negara-negara Barat, Islam telah hadir dan menjadi bagian penting bagi perkembangan intelektual Eropa. Pernyataan Hayes, yaitu menjadi sebuah pengakuan atas kuatnya pengaruh Islam di Eropa, sehingga mampu memecahkan culture bangsa-bangsa Eropa yang dahulu pernah bersatu di bawah Imperium Romawi.[3]
Terdapat banyak versi terkait motif invasi Muslim ke luar semenanjung Arabia. Hitti dalam Ajat Sudrajat mengatakan bahwa setidaknya ada dua motif utama dalam penaklukkan tersebut, yaitu keagamaan dan ekonomi. Menurutnya, para ulama menafsirkan bahwa gerakan ekspansi tersebut adalah gerakan keagamaan (dakwah). Sementara kalangan ahl al-kitab (Yahudi dan Nasrani) mengatakan motivasi utama adalah ekonomi, yaitu memperoleh harta rampasan perang dan pajak.[4] Watt, menyampaikan bahwa motif penyebrangan selat Gilbraltar oleh kaum Muslim, selain jihad, memperoleh harta rampasan merupakan bagian motivasi yang besar juga.[5] Namun, lepas dari itu semua, keberadaan kaum Muslimin di Eropa memberikan warna yang berbeda pada peradaban Eropa. Karena, berbeda dengan Romawi yang tunduk pada budaya Yunani, Islam justru mampu menundukkan dan menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam budaya Eropa Kristen, meskipun beberapa di antaranya menganggap adanya unsur paksaan dalam persoalan tersebut.
Ketika Islam mulai memasuki masa kemunduran di daerah Semenanjung Arab, bangsa-bangsa Eropa justru mulai bangkit dari tidurnya yang panjang, yang kemudian banyak dikenal dengan Renaissance. Kebangkitan tersebut bukan saja dalam bidang politik, dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Harus diakui, bahwa justru dalam bidang ilmu dan teknologi itulah yang mendukung keberhasilan negara-negara baru Eropa. Kemajuan-kemajuan Eropa tidak dapat dipisahkan dari peran Islam saat menguasai Spanyol.[6]
Dari Spanyol Islam itulah Eropa banyak menimba ilmu pengetahuan. Ketika Islam mencapai masa keemasannya, Kota Cordoba dan Granada di Spanyol merupakan pusat-pusat peradaban Islam yang sangat penting saat itu dan dianggap menyaingi Baghdad di Timur.

                           1. Cordova                                    2. Granada
                 



Ketika itu, orang-orang Eropa Kristen, Katolik maupun Yahudi dari berbagai wilayah dan negara banyak belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam di sana. Islam menjadi “guru” bagi orang Eropa.[7] Di sini pula mereka dapat hidup dengan aman penuh dengan kedamaian dan toleransi yang tinggi, kebebasan untuk berimajinasi dan adanya ruang yang luas untuk mengekspresikan jiwa-jiwa seni dan sastra.[8]
Penduduk keturunan Spanyol dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu: Pertama, kelompok yang telah memeluk Islam; Kedua, kelompok yang tetap pada keyakinannya tetapi meniru adat dan kebiasaan bangsa Arab, baik dalam bertingkah laku maupun bertutur kata; mereka kemudian dikenal dengan sebutan Musta’ribah, dan Ketiga, kelompok yang tetap berpegang teguh pada agamanya semula dan warisan budaya nenek moyangnya. Tidak sedikit dari mereka, yang non-muslim, menjadi pejabat sipil maupun militer, di dalam kekuasaan Islam Spanyol. Mereka pun mendapat keleluasaan dalam menjalankan ibadah mereka tanpa diganggu atau mendapat rintangan dari penguasa muslim saat itu, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya saat penguasa Kristen memerintah Spanyol.[9]
Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat ini banyak berhutang budi kepada khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang di periode klasik. Memang banyak saluran bagaimana peradaban Islam mempengaruhi Eropa, seperti Sicilia dan Perang Salib, tetapi saluran yang terpenting adalah Spanyol Islam.
Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, maupun perekonomian, dan peradaban antar negara. Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara tetangganya Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains di samping bangunan fisik.[10] Yang terpenting di antaranya adalah pemikiran Ibn Rusyd (1120-1198 M). la melepaskan belenggu taqlid dan menganjurkan kebebasan berpikir. la mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara yang memikat minat semua orang yang berpikiran bebas. la mengedepankan sunnahtullah menurut pengertian Islam terhadap pantheisme dan anthropomorphisme Kristen. Demikian besar pengaruhnya di Eropa, hingga di Eropa timbul gerakan Averroeisme (Ibn Rusydisme) yang menuntut kebebasan berpikir. Pihak gereja menolak pemikiran rasional yang dibawa gerakan Averroeisme ini.
Berawal dari gerakan Averroeisme inilah di Eropa kemudian lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M.[11] 41 Buku-buku Ibn Rusyd dicetak di Vinesia tahun 1481, 1482, 1483, 1489, dan 1500 M. Bahkan, edisi lengkapnya terbit pada tahun 1553 dan 1557 M. Karya-karyanya juga diterbitkan pada abad ke-16 M di Napoli, Bologna, Lyonms, dan Strasbourg, dan di awal abad ke-17 M di Jenewa.
Pengaruh peradaban Islam, termasuk di dalamnya pemikiran Ibn Rusyd, ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar di universitas-universitas Islam di Spanyol, seperti universitas Cordova, Seville, Malaga, Granada, dan Salamanca. Selama belajar di Spanyol, mereka aktif menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan-ilmuwan Muslim. Pusat penerjemahan itu adalah Toledo. Setelah pulang ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan universitas yang sama. Universitas pertama Eropa adalah Universitas Paris yang didirikan pada tahun 1231 M tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibn Rusyd. Di akhir zaman Pertengahan Eropa, baru berdiri 18 buah universitas. Di dalam universitas-universitas itu, ilmu yang mereka peroleh dari universitas-universitas Islam diajarkan, seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti, dan filsafat. Pemikiran filsafat yang paling banyak dipelajari adalah pemikiran Al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd.[12]
Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaissance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Latin.[13]
Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat kejam, tetapi ia telah membidani gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik (renaissance) pada abad ke-14 M yang bermula di Italia, gerakan reformasi pada abad ke-16 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (aufklarung) pada abad ke-18 M.[14]





[1] Carlton Hayes, History of Europe. (New York: MacMillan Company, 1956), hlm. 127.
[2] Samuel Huntington, Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia. (Yogyakarta: Qalam), hlm. 37.
[3] Desvian Bandarsyah dan Laely Armiyati, Sejarah Eropa 1: Dari Klasik hingga Industrialisasi. (Jakarta: Mitra Abadi, 2014), hlm. 35.
[4] Ajat Sudarajat, Perang Salib dan Kebangkitan Kembali Ekonomi Eropa. (Yogyakarta: Leutika, 2009), hlm. 21.
[5] Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia. (Jakarta: Gramedia, 1997), hlm. 11.
[6] Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam. (Jakarta, Kencana. 2005), hlm. 109.
[7] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. (Jakarta, Rajawali Pers. 2004), hlm. 87.
[8] Dean Derhak, Muslim Spain and European Culture, dalam http://www.muslimheritage.com.
[9] Siti Maryam, dkk., Sejarah Peradaban Islam: Dari masa Klasik hingga Modern. (Yogyakarta. LESFI, 2004). hlm. 83.
[10] Philip K. Hitti, History of the Arab. hlm. 526-530.
[11] S.I. Poeradisastra, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Peradaban Modern. (Jakarta: P3M, 1986), hlm. 67.
[12] Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Ibn Rusyd. (Jakarta: Bulan Bintan: 1975), hlm. 148-149.
[13] K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat. (Yogyakarta: Kanisius, 1986), hlm. 32.
[14] S.I. Poeradisastra, op.cit., hlm. 77.