Oleh : Adittyas Setiawan Yudha Prawira
Revolusi
Industri merupakan periode antara tahun 1750-1850 di mana
terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur,
pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam
terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Revolusi Industri
dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa Barat,
Amerika Utara, Jepang, dan akhirnya ke seluruh dunia.
Revolusi Industri menandai terjadinya titik balik
besar dalam sejarah dunia, hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari
dipengaruhi oleh Revolusi Industri, khususnya dalam hal peningkatan pertumbuhan
penduduk dan pendapatan rata-rata yang berkelanjutan dan belum pernah terjadi
sebelumnya. Selama dua abad setelah Revolusi Industri, rata-rata pendapatan
perkapita negara-negara di dunia meningkat lebih dari enam kali lipat.
Inggris memberikan landasan hukum dan budaya yang
memungkinkan para pengusaha untuk merintis terjadinya Revolusi Industri. Faktor
kunci yang turut mendukung terjadinya Revolusi Industri antara lain: (1) Masa
perdamaian dan stabilitas yang diikuti dengan penyatuan Inggris dan Skotlandia,
(2) tidak ada hambatan dalam perdagangan antara Inggris dan Skotlandia, (3)
aturan hukum (menghormati kesucian kontrak), (4) sistem hukum yang sederhana
yang memungkinkan pembentukan saham gabungan perusahaan (korporasi), dan (4)
adanya pasar bebas (kapitalisme).
Revolusi Industri dimulai pada akhir abad ke-18,
dimana terjadinya peralihan dalam penggunaan tenaga kerja di Inggris yang
sebelumnya menggunakan tenaga hewan dan manusia, yang kemudian digantikan oleh
penggunaan mesin yang berbasis menufaktur. Periode awal dimulai dengan
dilakukannya mekanisasi terhadap industri tekstil, pengembangan teknik
pembuatan besi dan peningkatan penggunaan batubara. Ekspansi perdagangan turut
dikembangkan dengan dibangunnya terusan, perbaikan jalan raya dan rel kereta
api. Adanya peralihan dari perekonomian yang berbasis pertanian ke perekonomian
yang berbasis manufaktur menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk
besar-besaran dari desa ke kota, dan pada akhirnya menyebabkan membengkaknya
populasi di kota-kota besar di Inggris.
Awal mula Revolusi Industri tidak jelas tetapi T.S.
Ashton menulisnya kira-kira 1760-1830. Tidak ada titik pemisah dengan Revolusi
Industri II pada sekitar tahun 1850, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi
mendapatkan momentum dengan perkembangan kapal tenaga-uap, rel, dan kemudian di
akhir abad tersebut perkembangan mesin pembakaran dalam dan perkembangan
pembangkit tenaga listrik
Faktor yang melatarbelakangi terjadinya Revolusi
Industri adalah terjadinya revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke 16 dengan
munculnya para ilmuwan seperti Francis Bacon, René Descartes, Galileo Galilei
serta adanya pengembangan riset dan penelitian dengan pendirian lembaga riset seperti
The Royal Improving Knowledge, The Royal Society of England, dan The French
Academy of Science. Adapula faktor dari dalam seperti ketahanan politik dalam
negeri, perkembangan kegiatan wiraswasta, jajahan Inggris yang luas dan kaya
akan sumber daya alam.
Istilah "Revolusi Industri" sendiri
diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan
abad ke-19. Beberapa sejarawan abad ke-20 seperti John Clapham dan Nicholas
Crafts berpendapat bahwa proses perubahan ekonomi dan sosial yang terjadi
secara bertahap dan revolusi jangka panjang adalah sebuah ironi. Produk
domestik bruto (PDB) per kapita negara-negara di dunia meningkat setelah
Revolusi Industri dan memunculkan sistem ekonomi kapitalis modern. Revolusi
Industri menandai dimulainya era pertumbuhan pendapatan per kapita dan
pertumbuhan ekonomi kapitalis. Revolusi Industri dianggap sebagai peristiwa
paling penting yang pernah terjadi dalam sejarah kemanusiaan sejak domestikasi
hewan dan tumbuhan pada masa Neolitikum.
A.
Sebab-Sebab
Timbulnya Revolusi Industri
Revolusi Industri untuk kali pertamanya muncul di
Inggris. Adapun faktor-faktornya yang menyebabkannya adalah sebagai berikut:
1. Situasi
politik yang stabil. Adanya Revolusi Agung tahun 1688 yang mengharuskan raja
bersumpah setia kepada Bill of Right sehingga raja tunduk kepada undang-undang
dan hanya menarik pajak berdasarkan atas persejutuan parlemen.
2. Inggris
kaya bahan tambang, seperti batu bara, biji besi, timah, dan kaolin. Di samping
itu, wol juga yang sangat menunjang industri tekstil.
3. Adanya
penemuan baru di bidang teknologi yang dapat mempermudah cara kerja dan
meningkatkan hasil produksi, misalnya alat-alat pemintal, mesin tenun, mesin
uap, dan sebagainya.
4. Kemakmuran
Inggris akibat majunya pelayaran dan perdagangan sehingga dapat menyediakan
modal yang besar untuk bidang usaha. Di samping itu, di Inggris juga tersedia
bahan mentah yang cukup karena Inggris mempunyai banyak daerah jajahan yang
menghasilkan bahan mentah tersebut.
5. Pemerintah
memberikan perlindungan hukum terhadap hasil-hasil penemuan baru (hak paten)
sehingga mendorong kegiatan penelitian ilmiah. Lebih-lebih setelah dibentuknya
lembaga ilmiah Royal Society for Improving Natural Knowledge maka perkembangan
teknologi dan industri bertambah maju.
6. Arus
urbanisasi yang besar akibat Revolusi Agraria di pedesaan mendorong pemerintah
Inggris untuk membuka industri yang lebih banyak agar dapat menampung mereka.
B.
Tahap
Perkembangan Industri
Pada akhir abad Pertengahan kota-kota di Eropa
berkembang sebagai pusat kerajinan dan perdagangan. Warga kota (kaum Borjuis)
yang merupakan warga berjiwa bebas menjadi tulang punggung perekonomian kota.
Mereka bersaing secara bebas untuk kemajuan dalam perekonomian. Pertumbuhan
kerajinan menjadi industri melalui beberapa tahapan, seperti berikut.
1. Sistem
Domestik
Tahap ini dapat disebut sebagai tahap kerajinan
rumah (home industri). Para pekerja bekerja di rumah masing-masing dengan alat
yang mereka miliki sendiri. Bahkan, kerajinan diperoleh dari pengusaha yang
setelah selesai dikerjakan disetorkan kepadanya. Upah diperoleh berdasarkan
jumlah barang yang dikerjakan. Dengan cara kerja yang demikian, majikan yang
memiliki usaha hanya membayar tenaga kerja atas dasar prestasi atau hasil. Para
majikan tidak direpotkan soal tempat kerja dan gaji.
2. Manufaktur
Setelah kerajinan industri makin berkembang
diperlukan tempat khusus untuk bekerja agar majikan dapat mengawasi dengan baik
cara mengerjakan dan mutu produksinya. Sebuah manufaktur (pabrik) dengan
puluhan tenaga kerja didirikan dan biasanya berada di bagian belakang rumah
majikan. Rumah bagian tengah untuk tempat tinggal dan bagian depan sebagai toko
untuk menjual produknya. Hubungan majikan dengan pekerja (buruh) lebih akrab
karena tempat kerjanya jadi satu dan jumlah buruhnya masih sedikit.
Barang-barang yang dibuat kadang-kadang juga masih berdasarkan pesanan.
3. Sistem
pabrik
Tahap sistem pabrik sudah merupakan industri yang
menggunakan mesin. Tempatnya di daerah industri yang telah ditentukan, bisa di
dalam atau di luar kota. Tempat tersebut untuk untuk tempat kerja, sedangkan
majikan tinggal di tempat lain. Demikian juga toko tempat pemasaran hasil
industri diadakah di tempat lain. Jumlah tenaganya kerjanya (buruhnya) sudah
puluhan, bahkan ratusan. Barang-barang produksinya dibuat untuk dipasarkan.
4. Berbagai
jenis penemuan
Adanya penemuan teknologi baru, besar peranannya
dalam proses industrialisasi sebab teknologi baru dapat mempermudah dan
mempercepat kerja industri, melipatgandakan hasil, dan menghemat biaya.
Penemuan-penemuan yang penting, antara lain sebagai berikut.
a) Kumparan
terbang (flying shuttle) ciptaan John Kay (1733). Dengan alat ini proses
pemintalan dapat berjalan secara cepat.
b) Mesin
pemintal benang (spinning jenny) ciptaan James Hargreves (1767) dan Richard
Arkwright (1769). Dengan alat ini hasilnya berlipat ganda.
c) Mesin
tenun (merupakan penyempurnaan dari kumparan terbang) ciptaan Edmund Cartwight
(1785). Dengan alat ini hasilnya berlipat ganda. Dll
Selain
itu, Revolusi Industri merupakan masa perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang menimbulkan penemuan-penemuan baru, seperti berikut :
1) Tahun
1750 : Abraham Darby menggunakan batu bara (cokes) untuk melelehkan besi
untuk mendapatkan nilai besi yang lebih sempurna.
2) Tahun
1800 : Alessandro Volta penemu pertama baterai
3) Tahun
1802 : Symington menemukan kapal kincir.
4) Tahun
1807 : Robert Fulton membuat kapal api yang telah menggunakan
baling-baling yang dapat menggerakkan kapal. Kapal itu diberi nama Clermont
yang mengarungi Lautan Atlantik pertama kali. Kapal ini berangkat dari Paris
dan berlabuh di New York. Selanjutnya, Robert Fulton berhasil membuat kapal
perang pertama (1814) yang telah digerakkan oleh mesin uap.
5) Tahun
1804 : Richard Trevethick membuat kapal uap. dll.
C.
Akibat
Revolusi Industri
Revolusi Industri mengubah Inggris menjadi negara
industri yang maju dan modern. Di Inggris muncul pusat-pusat industri, seperti
Lancashire, Manchester, Liverpool, dan Birmingham. Seperti halnya revolusi yang
lain, Revolusi Industri juga membawa akibat yang lebih luas dalam bidang
ekonomi, sosial dan politik, baik di negeri Inggris sendiri maupun di
negara-negara lain.
1. Akibat
di bidang ekonomi
a) Barang
melimpah dan harga murah
Revolusi Industri telah menimbulkan peningkatan
usaha industri dan pabrik secara besar-besaran melalui proses mekanisasi.
Dengan demikian, dalam waktu singkat dapat menghasilkan barang-barang yang
melimpah. Produksi barang menjadi berlipat ganda sehingga dapat memenuhi
kebutuhan masyarakat yang lebih luas. Akibat pembuatan barang menjadi cepat, mudah,
serta dalam jumlah yang banyak sehingga harga menjadi lebih murah.
b) Perusahaan
kecil gulung tikar
Dengan penggunaan mesin-mesin maka biaya
produksi menjadi relatif kecil sehingga harga barang-barang pun relatif lebih
murah. Hal ini membawa akibat perusahaan tradisional terancam dan gulung tikar
karena tidak mampu bersaing.
c) Perdagangan
makin berkembang
Berkat
peralatan komunikasi yang modern, cepat dan murah, produksi lokal berubah
menjadi produksi internasional. Pelayaran dan perdagangan internasional makin
berkembang pesat.
d) Transportasi
semakin lancar
Adanya penemuan di berbagai sarana dan
prasarana transportasi yang makin sempurna dan lancar. Dengan demikian,
dinamika kehidupan masyarakat makin meningkat.
2. Akibat
di bidang sosial
a) Berkembangnya
urbanisasi
Berkembangnya
industrialisasi telah memunculkan kota-kota dan pusat-pusat keramaian yang
baru. Karena kota dengan kegiatan industrinya menjanjikan kehidupan yang lebih
layak maka banyak petani desa pergi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan. Hal
ini mengakibatkan terabaikannya usaha kegiatan pertanian.
b) Upah
buruh rendah
Akibat
makin meningkatnya arus urbanisasi ke kota-kota industri maka jumlah tenaga
kerja makin melimpah. Sementara itu, pabrik-pabrik banyak yang menggunakan
tenaga mesin. Dengan demikian, upah tenaga kerja menjadi murah. Selain itu,
jaminan sosial pun berkurang sehingga kehidupan mereka menjadi susah. Bahkan
para pengusaha banyak memilih tenaga buruh wanita dan anak-anak yang upahnya
lebih murah.
c) Munculnya
golongan pengusaha dan golongan buruh
Di
dalam kegiatan industrialisasi dikenal adanya kelompok pekerja (buruh) dan
kelompok pengusaha (majikan) yang memiliki industri atau pabrik. Dengan
demikian, dalam masyarakat timbul golongan baru, yakni golongan pengusaha (kaum
kapitalis) yang hidup penuh kemewahan dan golongan buruh yang hidup dalam
kemiskinan.
Adanya
kesenjangan antara majikan dan buruh
Dengan
munculnya golongan pengusaha yang hidup mewah di satu pihak, sementara terdapat
golongan buruh yang hidup menderita di pihak lain, maka hal itu menimbulkan
kesenjangan antara pengusaha dan buruh. Kondisi seperti itu sering menimbulkan
ketegangan-ketegangan yang diikuti dengan pemogokan kerja untuk menuntut
perbaikan nasib. Hal ini menimbulkan kebencian terhadap sistem ekonomi
kapitalis, sehingga kaum buruh condong kepada paham sosialis.
d) Munculnya
revolusi sosial
Pada
tahun 1820-an terjadi huru hara yang ditimbulkan oleh penduduk kota yang miskin
dengan didukung oleh kaum buruh. Gerakan sosial ini menuntut adanya perbaikan
nasib rakyat dan buruh. Akibatnya, pemerintah mengeluarkan undang-undang yang
menjamin perbaikan nasib kaum buruh dan orang miskin.
Akibat
di bidang politik
e) Munculnya
gerakan sosialis
Kaum
buruh yang diperlakukan tidak adil oleh kaum pengusaha mulai bergerak menyusun
kekuatan untuk memperbaiki nasib mereka. Mereka kemudian membentuk organisasi
yang lazim disebut gerakan sosialis. Gerakan sosialis dimotivasi oleh pemikiran
Thomas Marus yang menulis buku Otopia. Tokoh yang paling populer di dalam
pemikiran dan penggerak paham sosialis adalah Karl Marx dengan bukunya Das
Kapital.
f) Munculnya
partai politik
Dalam
upaya memperjuangkan nasibnya maka kaum buruh terus menggalang persatuan.
Apalagi dengan makin kuatnya kedudukan kaum buruh di parlemen mendorong dibentuknya
suatu wadah perjuangan politik, yakni Partai Buruh. Partai ini berhaluan
sosialis. Di pihak pengusaha mengabungkan diri ke dalam Partai Liberal.
g) Munculnya
imperialisme modern
Kaum
pengusaha/kapitalis umumnya mempunyai pengaruh yang kuat dalam pemerintahan
untuk melakukan imperialisme demi kelangsungan industrialisasinya. Dengan
demikian, lahirlah imperialisme modern, yaitu perluasan daerah-daerah sebagai
tempat pemasaran hasil industri, mencari bahan mentah, penanaman modal yang
surplus, dan tempat mendapatkan tenaga buruh yang murah. Dalam hal ini, Inggris
yang menjadi pelopornya.
D.
Pengaruh
Revolusi Industri Terhadap di Indonesia
Revolusi Industri yang terjadi di Eropa dan Inggris
khususnya membawa dampak di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Di bidang
sosial munculnya golongan buruh yang hidup menderita dan berusaha berjuang
untuk memperbaiki nasib. Gerakan kaum buruh inilah yang kemudian melahirkan
gerakan sosialis yang menjadi lawan dari kapitalis. Bahkan kaum buruh akhirnya
bersatu dalam suatu wadah organisasi, yakni Partai Buruh. Di bidang ekonomi,
perdagangan makin berkembang. Perdagangan lokal berubah menjadi perdagangan
regional dan internasional. Sebaliknya, di bidang politik, Revolusi Industri
melahirkan imperialisme modern.
1. Perubahan
di bidang politik
Sejak
VOC dibubarkan pada tahun 1799, Indonesia diserahkan kembali kepada
pemerintahan Kerajaan Belanda. Pindahnya kekuasaan pemerintahan dari VOC ke
tangan pemerintah Belanda tidak berarti dengan sendirinya membawa perbaikan.
Kemerosotan moral di kalangan para penguasa dan penderitaan penduduk jajahan
tidak berubah. Usaha perbaikan bagi penduduk tanah jajahan tidak dapat
dilaksanakan karena Negeri Belanda sendiri terseret dalam perang dengan
negara-negara besar tetangganya. Hal ini terjadi karena Negeri Belanda pada
waktu itu diperintah oleh pemerintah boneka dari Kerajaan Prancis di bawah
pimpinan Napoleon Bonaparte. Dalam situasi yang demikian, Inggris dapat
memperluas daerah kekuasaannya dengan merebut jajahan Belanda, yaitu Indonesia.
2. Perubahan
di Bidang Sosial Ekonomi
Sejak
awal abad ke-19, pemerintah Belanda mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk
membiayai peperangan baik di Negeri Belanda sendiri (pemberontakan rakyat
Belgia), maupun di Indonesia (terutama perlawanan Diponegoro) sehingga Negeri
Belanda harus menanggung hutang yang sangat besar. Untuk menyelamatkan Negeri
Belanda dari bahaya kebrangkrutan maka Johanes van den Bosch diangkat sebagai
gubernur jenderal di Indonesia dengan tugas pokok menggali dana semaksimal
mungkin untuk mengisi kekosongan kas negara, membayar hutang, dan membiayai
perang. Untuk melaksanakan tugas berat itu, van den Bosch memusatkan
kebijaksanaannya pada peningkatan produksi tanaman ekspor. Untuk itu, yang
perlu dilakukan ialah mengerahkan tenaga rakyat tanah jajahan untuk melakukan
penanaman tanaman yang hasilnya laku di pasaran dunia dan dilakukan dengan
sistem paksa. Setelah tiba di Indonesia (1830) van den Bosch menyusun program
kerja sebagai berikut.
a) Sistem
sewa tanah dengan uang harus dihapus karena pemasukannya tidak banyak dan
pelaksanaannya sulit.
b) Sistem
tanam bebas harus diganti dengan tanam wajib dengan jenis-jenis tanaman yang
sudah ditentukan oleh pemerintah.
c) Pajak
atas tanah harus dibayar dengan penyerahan sebagian dari hasil tanamannya kepada
pemerintah Belanda.
Yang
dilakukan oleh van den Bosch itulah yang kemudian dikenal dengan nama sistem
tanam paksa atau cultuur stelsel. Sistem tanam paksa yang diajukan oleh van den
Bosch pada dasarnya merupakan gabungan dari sistem tanam wajib (VOC) dan sistem
pajak tanah (Raffles). Pelaksanaan sistem tanam paksa banyak menyimpang dari
aturan pokoknya dan cenderung untuk mengadakan eskploitasi agraria semaksimal
mungkin.
3. Akibat
Tanam Paksa
Akibat
Tanam Paksa Bagi Indonesia (Khususnya Jawa)
a) Sawah
ladang menjadi terbengkalai karena diwajibkan kerja rodi yang berkepanjangan
sehingga penghasilan menurun drastis.
b) Beban
rakyat semakin berat karena harus menyerahkan sebagian tanah dan hasil
panennya, membayar pajak, mengikuti kerja rodi, dan menanggung risiko apabila
gagal panen.
c) Akibat
bermacam-macam beban menimbulkan tekanan fisik dan mental yang berkepanjangan.
1) Timbulnya
bahaya kemiskinan yang makin berat.
2) Timbulnya
bahaya kelaparan dan wabah penyakit di mana-mana sehingga angka kematian
meningkat drastis.
Bahaya
kelaparan menimbulkan korban jiwa yang sangat mengerikan di daerah Cirebon
(1843), Demak (1849) dan Grobogan (1850). Kejadian ini mengakibatkan jumlah
penduduk menurun drastis. Penyakit busung lapar (hongorudim) juga berkembang di
mana-mana.
4. Akibat
Tanam Paksa Bagi Belanda
Apabila
sistem tanam paksa telah menimbulkan malapetaka bagi bangsa Indonesia,
sebaliknya bagi bangsa Belanda berdampak sebagai berikut.
a) Mendatangkan
keuntungan dan kemakmuran rakyat Belanda.
b) Hutang-hutang
Belanda dapat terlunasi.
c) Penerimaan
pendapatan melebihi anggaran belanja.
d) Kas
Negeri Belanda yang semula kosong, dapat terpenuhi.
e) Berhasil
membangun Amsterdam menjadi kota pusat perdagangan dunia.
f) Perdagangan
berkembang pesat.
Sistem
tanam paksa yang mengakibatkan kemelaratan bagi bangsa Indonesia, khusunya
Jawa, menimbulkan reaksi dari berbagai pihak, seperti golongan pengusaha, Baron
Van Hoevel, dan Edward Douwes Dekker. Akibat adanya reaksi tersebut, pemerintah
Belanda secara berangsur-angsur menghapuskan sistem tanam paksa. Sesudah tahun
1850, kaum Liberal memperoleh kemenangan politik di Negeri Belanda. Mereka juga
ingin menerapkan asas-asas liberalisme di tanah jajahan. Dalam hal ini kaum
Liberal berpendapat bahwa pemerintah semestinya tidak ikut campur tangan dalam
masalah ekonomi, tugas ekonomi haruslah diserahkan kepada orang-orang swasta,
dan agar kaum swasta dapat menjalankan tugasnya maka harus diberi kebebasan
berusaha. Sesuai dengan tuntutan kaum Liberal maka pemerintah kolonial segera
memberikan peluang kepada usaha dan modal swasta untuk menanamkan modal mereka
dalam berbagai usaha di Indonesia, terutama perkebunan-pekebunan di Jawa dan di
luar Jawa. Selama periode tahun 1870–1900 Indonesia terbuka bagi modal swasta
Barat. Oleh karena itu masa ini sering disebut zaman Liberal. Selama masa ini
kaum swasta Barat membuka perkebunan-perkebunan seperti, kopi, teh, gula dan
kina yang cukup besar di Jawa dan Sumatera Timur. Selama zaman Liberal
(1870–1900), usaha-usaha perkebunan swasta Barat mengalami kemajuan pesat dan
mendatangkan keuntungan yang besar bagi pengusaha. Kekayaan alam Indonesia
mengalir ke Negeri Belanda. Akan tetapi, bagi penduduk pribumi, khususnya di
Jawa telah membawa kemerosotan kehidupan, dan kemunduran tingkat kesejahteraan.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti berikut.
1) Adanya
pertumbuhan penduduk yang meningkat pada abad ke-19, sementara itu jumlah
produksi pertanian menurun.
2) Adanya
sistem tanam paksa dan kerja rodi yang banyak menimbulkan penyelewengan dan
penyalahgunaan dari pihak pengusaha sehingga membawa korban bagi penduduk.
3) Dalam
mengurusi pemerintahan di daerah luar Jawa, pemerintah Belanda mengerahkan
beban keuangan dari daerah Jawa sehingga secara tidak langsung Jawa harus
menanggung beban keuangan.
4) Adanya
sistem perpajakan yang sangat memberatkan penduduk.
5) Adanya
krisis perkebunan pada tahun 1885 yang mengakibatkan perusahaan- perusahaan
mengadakan penghematan, seperti menekan uang sewa tanah dan upah kerja baik di
pabrik maupun perkebunan. Pada akhir abad ke-19 muncullah kritik-kritik tajam
yang ditujukan kepada pemerintah Hindia Belanda dan praktik liberalisme yang
gagal memperbaiki nasib kehidupan rakyat Indonesia. Para pengkritik itu
menganjurkan untuk memperbaiki rakyat Indonesia. Kebijaksanaan ini didasarkan
atas anjuran Mr. C. Th. van Deventer yang menuliskan buah pikirannya dalam
majalah De Gids (Perinstis/Pelopor) dengan judul Een Ereschuld (Berhutang Budi)
sehingga dikenal politik etis atau politik balas budi. Gagasan van Deventer
terkenal dengan nama Trilogi van Deventer.
ok, sumbernya tidak ada ya?
ReplyDeleteYou can check my good site :
ReplyDeleteagen bola sbobet
agen bola terbaik dan terpercaya
agen bola
thank you