Sebenarnya, secara keseluruhan orang Belanda tidak
senang bergabung dengan Waffen SS. Belanda sendiri secara resmi masih dalam
keadaan berperang dengan Jerman karena pemerintahan yang sah masih berfungsi di
London setelah jatuhnya negeri tersebut pada bulan Mei 1940. Karenanya
bergabung dengan tentara musuh dianggap sebagai tindakan pengkhianatan. Bahkan
pandangan ini juga dimiliki oleh kolaborator utama Belanda, Anton Mussert, yang
merupakan pemimpin NSB (Nationaal Socialitische Beweging, atau Partai Nazi
Belanda).
Akan tetapi Mussert merasa terpukul ketika Himmler
secara gamblang menegaskan bahwa Belanda pada akhirnya akan digabungkan dengan
Reich Jerman Raya. Hal itu tentu saja berarti bahwa Belanda bukan hanya akan
kehilangan kedaulatan nasionalnya melainkan juga semua otonomi yang masih
dimilikinya. Untuk melancarkan integrasi tersebut, Himmler memerintahkan
pembentukan sebuah badan SS Belanda. Organisasi ini akan membantu
menazifikasikan bangsa Belanda dan membuat mereka siap untuk diintegrasikan ke
dalam Reich.
Pernyataan Himmler ini menimbulkan dilemma bagi
Mussert: bekerja sama dengan SS dan merekrut sukarelawan Belanda bagi mereka
sama saja artinya bekerja sama dengan musuh. Namun di sisi lain, menentang SS
bisa menimbulkan akibat buruk bagi NSB. Kegalauan Mussert bertambah ketika SS
mengancam akan menggantinya dengan tokoh NSB lainnya yang lebih pro Nazi
apabila dia menolak mengikuti kemauan mereka.
Akhirnya, keinginan untuk tetap berkuasa membuat
Mussert menyerah pada tekanan SS. Pada tanggal 11 September 1940 Mussert
membentuk Nederlandsche SS (SS Belanda). Tiruan dari SS ini secara resmi
merupakan bagian dari NSB. Sebagai pemimpinnya diangkat Henk Feldmeijer,
seorang tokoh radikal NSB. Walaupun sebenarnya Mussert ingin agar Nederlandsche
SS bisa dikontrolnya, para pemimpin NSB yang radikal seperti Feldmeijer
menganggap organisasi SS Belanda itu sebagai sebuah pasukan penggempur nasional
sosialis untuk mencapai cita-cita Jermanik Raya.
Serangan Hitler ke Rusia pada tanggal 22 Juni 1941
membangkitkan dukungan besar bagi Jerman dari banyak orang Eropa yang anti
komunis. Di Belanda, banyak orang yang siap untuk membantu kampanye militer
Jerman untuk ‘menyelamatkan’ Eropa dari gerombolan orang biadab dan tidak
bertuhan dari Timur. Orang Jerman mendukung kecenderungan tersebut karena
dengan dengan demikian mereka bukan hanya mendapatkan tambahan SDM namun juga
dapat menunjukkan bahwa orang Jermanik Eropa bukan hanya mendukung kebijakan
mereka namun juga siap berjuang di pihak mereka.
Orang Jerman menunjuk seorang pensiunan jenderal
Belanda bernama H.A. Seyffardt untuk memimpin legiun sukarelawan Belanda.
Mereka juga memberikan izin kepada semua sukarelawan untuk mengenakan lambing
nasional mereka di seragamnya. Sebagai contoh, ‘prinsevlag’ (bendera
oranye-putih-biru lambang kerajaan Belanda) tersulam di lengan seragam mereka.
Setelah itu para prajurit bersumpah setia kepada fuehrer maupun ‘prinsevlag’.
Suasana ‘Belanda’ ini membuat banyak sukarelawan mengira bahwa mereka bergabung
dengan sebuah unit tempur nasional Belanda yang akan membantu pasukan Jerman di
Rusia.
Akan tetapi kenyataannya tidak begitu. Jauh sebelum
pembentukan sebuah unit sukarelawan Belanda, Hitler telah memutuskan bahwa
penanggung jawab atas semua sukarelawan Jermanik adalah Waffen SS. Pihak SS
mengklaim bahwa para sukarelawan Belanda harus bergabung dengan mereka untuk
mengembangkan korp elite Jermaniknya Himmler. Akibatnya, ketika para rekrutan
tiba di barak-barak SS, banyak di antara mereka menjadi marah karena merasa
ditipu. Beberapa di antara mereka menyampaikan protes keras dan akhirnya
diizinkan mengundurkan diri. Yang lainnya memutuskan untuk tetap tinggal
walaupun mereka sudah ditipu oleh ‘teman’ Jerman mereka.
Selama Perang Dunia II, sekitar 50.000 orang Belanda
tercatat berdinas di dalam Waffen SS. Para sukarelawan ini bergabung karena
berbagai alasan. Kelompok terbesar bergabung karena ingin bertualang atau
karena tidak memiliki pekerjaan. Mereka ini diikuti oleh orang-orang yang
memiliki ideologi yang menginginkan agar Jerman menang perang dan percaya bahwa
dengan menjadi sukarelawan mereka dapat menjamin bahwa partai dan negeri mereka
akan mendapatkan tempat istimewa dalam Orde Barunya Hitler. Beberapa orang
bergabung karena mereka sangat anti-komunis. Menjelang 18 bulan terakhir
perang, cukup banyak orang yang bergabung untuk menghindari kerja paksa ataupun
tuntutan hukum.
Karena latar belakang yang beraneka ragam ini, para
sukarelawan Belanda merasa kaget ketika mereka harus menghadapi para pelatih
yang kasar dan kaku khas Jerman. Segera timbul keluhan bahwa para instruktur SS
memperlakukan para sukarelawan asing dengan sikap yang sangat angkuh. Hal ini
sendiri tidaklah mengherankan karena kebanyakan pelatih SS bukan hanya tidak
mengerti kebiasaan dan cara pandang bangsa lain namun juga menganggap bahwa
tugas melatih para sukarelawan bukan Jerman adalah suatu pekerjaan hina!
Metode
pelatihan yang super Jerman ini menimbulkan perlawanan sengit dari para
sukarelawan Belanda. Bahkan Himmler sendiri juga murka pada cara anak buahnya
memperlakukan para sukarelawan Jermaniknya. Untuk memperbaiki keadaan, pemimpin
SS itu mengancam akan menurunkan pangkat atau memecat para perwira dan bintara
SS yang sikapnya bisa mengancam masa depan Jermanisme yang dicita-citakan Nazi.
Akhirnya keadaan membaik. Perlahan-lahan timbul suatu ikatan antara para kader
SS Jerman dan Belanda sebagai kawan seperjuangan, sesuatu yang amat penting
ketika mereka harus menghadapi musuh di garis depan.
Para sukarelawan Belanda dikirim ke Front Timur
dalam berbagai formasi SS. Kontingen pertama terjun ke medan laga sebagai
bagian dari Resimen SS Westland, di mana mereka digabungkan dengan
saudara-saudara Vlam (orang Belgia yang berbahasa Belanda) mereka.
Formasi militer Belanda yang lebih besar dan solid
adalah SS-Freiwilligen Legion Niederlande (legiun sukarela SS Belanda). Unit
ini dikirim ke Rusia pada bulan Januari 1942 dan ditetapkan di pinggiran
Leningrad (St. Petersburg). Bekas ibukota kekaisaran Rusia serta tempat
lahirnya Revolusi Komunis pada tahun 1917 itu merupakan sebuah pusat industri
dan infrastruktur Uni Soviet yang penting. Dengan demikian, orang Jerman sangat
berkepentingan untuk merebut kota tersebut sementara orang Rusia berusaha
mati-matian untuk mempertahankannya. Hal ini kemudian melahirkan salah satu
peristiwa tragis yang penuh kepahlawanan selama Perang Dunia II: pengepungan
selama 900 hari atas Leningrad.
Selama bulan-bulan pertama tahun 1942 itu,
Niederlande terlibat dalam sejumlah operasi militer yang sukses melawan Tentara
Merah. Pada bulan Juni, mereka berpartisipasi dalam suatu operasi yang
menghancurkan sebuah pasukan elite Rusia di dekat Danau Fuhovga. Pasukan
Belanda bukan hanya merampas sejumlah besar perlengkapan militer lawan namun
juga berhasil menawan 3.500 prajurit Rusia, termasuk Jenderal Vlassov yang
terkenal. Penampilan mereka yang prima itu bukan hanya mendapatkan pujian dari
para komandan Jerman namun juga menyebabkan Hitler menghadiahkan medali
keberanian Salib Besi Kelas I dan II kepada 190 anggota legiun!
Akan tetapi keadaan berubah menjadi berat bagi
mereka setelah kekalahan Tentara Jerman di Stalingrad pada awal tahun 1943.
Kemenangan tersebut membuat semangat Tentara Merah untuk membebaskan tanah
airnya berkobar. Pada bulan Januari 1943, Tentara Merah melancarkan serangan
besar-besaran untuk menembus blokade Jerman terhadap Leningrad. Bersama-sama
pasukan Jerman lainnya, Niederlande mati-matian berusaha menahan gerak maju
tank dan infanteri Rusia. Meriam-meriam anti tank legiun tersebut terbukti
sangat efektif dalam pertahanan Jerman. SS-Sturmann (kopral) Gerardus Mooyman
diberikan medali militer tertinggi Jerman, Salib Ksatria, atas keberhasilannya
menghancurkan tiga belas tank Rusia dalam waktu satu hari!
Pada bulan April 1943, legiun yang kelelahan itu
ditarik dari Leningrad untuk beristirahat dan ditingkatkan kekuatannya menjadi
seukuran brigade. Brigade baru tersebut, yang berkekuatan 5.000 orang Belanda,
terdiri atas dua resimen, Resimen General Seyffardt (untuk menghormati bekas
komandan legiun yang dibunuh oleh gerilyawan Belanda) dan De Ruyter. Mereka
kemudian dikirim ke Zagreb, Kroasia, di mana mereka mendapatkan pelatihan
tambahan serta dilibatkan dalam sejumlah operasi melawan kaum partisan
Yugoslavia pimpinan Tito.
Sementara itu Front Timur kembali memanas. Setelah
menang di Kursk pada musim panas 1943, Tentara Merah bergerak maju di seluruh
front. Keadaan ini menyebabkan Niederlande dikirim kembali ke Leningrad pada
hari Natal 1943, walaupun brigade pimpinan SS-Brigadeführer Jürgen Wagner itu
belum menyelesaikan pelatihannya. Meskipun ada perlawanan senngit dari pasukan
Jerman, kali ini Tentara Merah berhasil membebaskan Leningrad dari kepungan
yang telah menelan satu juta jiwa orang Rusia selama hampir tiga tahun itu.
Untuk menghindari kehancuran, Niederlande mundur ke Narva di Estonia.
Akan tetapi Tentara Merah terus mengejar mereka.
Pada tanggal 24 Juli 1944, pasukan Soviet melancarkan serangan besar-besaran ke
Narva dan memaksa Niederlande mundur terus ke Lithuania. Dalam penarikan mundur
ini, Resimen General Seyffardt terjebak di suatu wilayah hutan berawa dan
diserang habis-habisan dari darat dan udara oleh pasukan lawan. Sebagian besar
anggotanya binasa sementara orang-orang yang selamat diburu selama berhari-hari
di kawasan berawa-rawa. Hanya sedikit saja di antara mereka yang berhasil
kembali ke garis Jerman.
Pada musim panas 1944 pasukan Jerman mundur di semua
front, di mana Sekutu bergerak menjepit mereka dalam suatu gerakan raksasa dari
arah timur dan barat setelah pendaratan di Normandia. Di tengah-tengah bencana
tersebut, suatu peristiwa mengejutkan terjadi. Pada tanggal 20 Juli, seorang
perwira Jerman yang anti-Nazi berusaha membunuh Hitler namun gagal. Ketika
berita itu tersiar di front, banyak prajurit Jerman, termasuk para sukarelawan
Belanda, menjadi marah terhadap apa yang mereka sebut pengkhianatan itu.
Seorang prajurit Belanda menulis kepada Hitler sebagai berikut: “…Semoga
keyakinan jutaan orang Jerman dan ribuan sukarelawan Jermanik tetap bersama
anda dalam kecintaan yang fanatik dan kesetiaan yang tidak menyurut.”
Fanatisme dan semangat tempur Niederlande itu bukan
hanya mendapatkan pujian dari Himmler namun juga membuat pemimpin SS itu
berkeinginan memperbesar kekuatan SS Belanda. Hasilnya adalah pembentukan Divisi
SS Landstorm Nederland. Dibentuk pada tahun 1943, unit tersebut dimaksudkan
untuk mempertahankan Belanda dari serbuan Sekutu. Ironisnya, pada bulan
September 1944, Landstorm Nederland ikut berpartisipasi dalam menggagalkan
usaha pasukan payung Sekutu untuk membebaskan negeri mereka.
Sementara itu keadaan para prajurit Belanda di Front
Timur semakin memburuk. Terkepung di Kurland, Lithuania, Niederlande diungsikan
lewat laut. Dalam pengungsian tersebut banyak anggota brigade yang hilang
ketika Angkatan Laut Soviet menenggelamkan kapal penumpang Moira. Akan tetapi
tulang punggung brigade tersebut berhasil tiba dengan selamat di Stettin, di
timur Jerman.
Pada tanggal 10 Februari 1945, brigade tersebut
ditingkatkan statusnya menjadi sebuah divisi. Akan tetapi nama tersebut hanya
di atas kertas belaka karena pada kenyataannya divisi itu berkekuatan seribu
orang saja. Padahal sebuah divisi biasanya beranggotakan 12.000 orang!
Sementara
itu Tentara Merah maju dengan cepat menuju jantung Jerman, Berlin. Dalam suatu
usaha akhir untuk membendung serangan itu, Niederlande—bersama-sama unit SS
Jerman, Belgia dan Skandinavia—ditugaskan untuk mempertahankan Sungai Oder, di
antara wilayah Stettin dan Neustadt. Apabila garis pertahanan ini jebol, maka
tak ada lagi rintangan yang bisa menahan Tentara Merah.
Serangan Soviet yang dimulai pada tanggal 16 April
1945 itu merupakan serangan terbesar sepanjang zaman. Dimulai oleh pemboman
dari 41.000 meriam, kemudian Stalin mengerahkan tiga juta prajurit yang
didukung oleh 6.000 tank lebih serta 6.500 pesawat terbang. Untuk menghadapi
mereka, Jerman hanya memiliki kurang dari satu juta prajurit dengan meriam,
tank dan pesawat terbang yang jumlahnya kurang dari sepertiga yang dimiliki
lawan. Lebih parah lagi, orang Jerman kekurangan amunisi dan bahan bakar.
Hasil akhir dari peperangan bisa ditebak. Walaupun
tentara Jerman bertahan dengan berani, di mana-mana garis pertahanan mereka
jebol. Tentara Merah melanda bagaikan air bah menuju Berlin. Di tengah-tengah
bencana tersebut, Niederlande berusaha mundur ke barat untuk menghindari balas
dendam Tentara Merah. Sekali lagi, Resimen General Seyffardt (yang dihidupkan
kembali setelah bencana di Narva) mengalami nasib buruk. Di Hammerstein,
resimen tersebut dikepung dan dimusnahkan oleh Tentara Merah yang jauh lebih
besar. Sebagian besar anggotanya terbunuh, sementara yang menyerah segera
dieksekusi oleh prajurit Rusia.
Resimen De Ruyter sendiri nyaris dihancurkan oleh
sebuah pasukan tank Soviet di dekat Desa Parchim di utara Berlin pada tanggal 3
Mei 1945. Akan tetapi ketika mereka mendengar deru mesin tank mendekat dari
arah barat, semangat mereka berkobar kembali. Mengapa? Karena suara tersebut
segera terbukti milik unit-unit tank Amerika. Setelah bertempur habis-habisan
dan menghancurkan tank Rusia yang terakhir, para prajurit De Ruyter menyerah
kepada pasukan Amerika sehingga terhindar dari kekejaman Tentara Merah. Empat
hari kemudian Jerman menyerah. Bersama-sama dengan rekan-rekan Jermannya, para
prajurit SS Belanda yang tersisa meletakkan senjata dan bergerak memasuki
tempat-tempat penahanan dalam formasi militer menuju akhir yang getir.
Pada tahun 1946, Waffen SS—sebagai bagian dari
SS—dituduh sebagai sebuah organisasi kriminal di depan Mahkamah Militer
Internasional di Nürnberg. Sehubungan dengan dakwaan kejahatan perang dan
kejahatan terhadap kemanusiaan yang ditimpakan kepada Waffen SS itu, bekas
anggota SS Belanda juga harus memikul beban kesalahan tersebut. Selama perang,
sejumlah serdadu dan unit SS Belanda berpartisipasi dalam eksekusi terhadap
para gerilyawan dan penduduk sipil. Sebagai contoh, seorang prajurit SS Belanda
yang pernah bertugas di Kroasia memberikan kesaksian bahwa “Saat para partisan
ini tertangkap…mereka bisa bergantungan di atas pohon yang tinggi.” Untuk
kejahatan tersebut, SS-Brigadeführer Jürgen Wagner—bekas komandan
Niederlande—diekstradisi oleh Sekutu Barat ke Yugoslavia, di mana dia diadili
dan dieksekusi atas kejahatan perang yang dilakukan unitnya.
Akan tetapi beban utama yang harus ditanggung oleh
bekas anggota SS Belanda itu tidak terkait dengan tindakan kejahatan perang
mereka melainkan oleh tuduhan melakukan pengkhianatan terhadap tanah air
mereka. Orang Belanda terutama sangat keras memperlakukan ‘para kolaborator’
militer dan memenjarakan mereka di bekas kamp konsentrasi Nazi di Vught maupun
penjara di Veluuwe. Banyak di antara mereka baru dibebaskan pada akhir tahun
1940-an sedangkan sejumlah perwira ditahan hingga pertengahan tahun 1950-an.
Ketika akhirnya isu mengenai para sukarelawan ini
muncul setelah perang, mereka selalu dibicarakan dengan sikap yang menghina
dengan sebutan sebagai penjahat atau tentara bayaran. Sebegitu besarnya masalah
mengenai para ‘sukarelawan’ ini sehingga Pemerintah Belanda melakukan sensor
mengenai isu tersebut, yang dalam banyak kasus berlaku hingga hari ini.
Sedangkan mengenai para veteran Waffen SS Belanda, kebanyakan di antara mereka
berusaha menutupi masa lalu mereka. Hal itu tidaklah mengherankan karena
beberapa bekas anggota SS Belanda yang kemudian menjadi pengusaha maupun
politisi yang cukup berpengaruh ternyata rawan oleh pemerasan. Masa lalu mereka
nampaknya tetap menjadi noda yang harus ditanggung seumur hidup mereka.
No comments:
Post a Comment