Tuesday, June 21, 2016

Perkembangan Teknologi Persenjataan, Ruang Angkasa, dan Situasi Keamanan Dunia pada masa Perang Dingin

Nama : Ridwan Gunawan
NIM : 1401085016
Tugas : Artikel Sejarah Eropa

            Selama berlangsungnya Perang Dingin, situasi dan kondisi dunia telah diwarnai oleh perlombaan senjata nuklir antara dua Negara adikuasa. Pada awalnya, usaha pembuatan senjata nuklir ini terjadi pada masa akhir Perang Dunia II (1945) dengan tujuan untuk menciptakan senjata pembunuh yang dapat menghancurkan secara missal pihak lawan. Pihak Sekutu dan Blok USA (Jerman, Italia, dan Jepang) berusaha membangun senjata yang dapat mengalahkan musuh secara massal seperti senjata bom atom.
            Pada tahun 1949, Uni Soviet mengadakan uji coba peledakan bom atomnya yang pertama. Amerika Serikat tidak menduga Uni Soviet akan secepat itu mengejar ketinggalannya. Oleh karena itu, pada tahun 1950 Presiden Amerika Serikat, Harry S Truman, memerintahkan pengadaan program darurat bagi penelitian bom hydrogen. Program ini berhasil dan pengujiannya dilaksanakan pada November 1952. Namun, Sembilan bulan kemudian Uni Soviet sudah mampu membuat bom hydrogen sendiri.
            Menyadari akan adanya ancaman perang terbuka dengan menggunakan senjata nuklir, USA, USSR, dan Inggris sepakat untuk menghentikan uji coba senjata nuklir pada tahun 1963. Kesepakatan itu juga ditandatangani oleh lebih dari 100 negara. Kesepakatan tersebut diteruskan pada 1968 dengan ditandatanganinya Non-Proliferation of Nuclear Weapons atau perjanjian mengenai penghentian persebaran senjata nuklir.
            Namun demikian, Perancis dan RRC melanggar kesepakatan tersebut dan pada tahun 1968 kedua Negara telah memiliki bom hydrogen. Hal yang sama juga diikuti oleh India. Negara yang sedang bersaing dengan RRC tersebut karena masalah perbatasan, sejak 1962 mampu menciptakan peluru kendali (rudal) yang berkepala nuklir. Ujicoba senjata nuklir pada tahun 1974 telah mengejutkan Pakistan dan mendorong Negara tersebut untuk melakukan hal yang sama. Jadi, selain oleh Negara superpower, perlombaan senjata nuklir dilakukan oleh Negara-negara berkembang, pada masa Perang Dingin. Menurut sebuah laporan resmi dari pemerintah USA, Negara tersebut telah menyiapkan 36 bom nuklir yang dapat dijatuhkan pada setiap kota dari 218 kota di USSR dengan jumlah penduduk lebih dari 100.000 jiwa. Adapun USSR telah menyiapkan rata-rata 11 bom untuk dijatuhkan di setiap kota USA. Perlombaan tersebut tetap berlanjut walaupun telah dilakukan Strategic Arms Limitation Treaty (SALT) yang telah ditandatangani oleh Negara-negara yang bertikai.
            Bersamaan dengan perlombaan senjata, USA dan USSR juga terlibat dalam persaingan untuk memperoleh keunggulan dalam menguasai ruang angkasa. Untuk itu, berbagai uji coba peluncuran pesawat ruang angkasa terus dilakukan. Pada mulanya, Uni Soviet meluncurkan pesawat Sputnik 1 tanpa awak kapal (1957), kemudian diikuti Sputnik 2 yang membawa seekor anjing. Amerika Serikat mengimbangi dengan meluncurkan Explorer I (1958), kemudian diikuti Explorer II, Discoverer, dan Vanguard. Uni Soviet mengungguli dengan meluncurkan Lunik yang berhasil didaratkan ke bulan dan kemudian ditandingi oleh Amerika Serikat dengan pendaratan manusia di bulan melalui Pesawat Apollo 11.
            Astronot pertama yang diluncurkan Uni Soviet ialah Yuri A Gagarin dengan mengendarai pesawat ruang angkasa Vostok I yang berhasil mengitari bumi selama 1 jam 29 menit pada april 1961. Amerika Serikat kemudian menyusul dengan astronotnya yang pertama, yaitu Alan Bartlett Shepard Jr. yang berada di ruang angkasa selama 15 menit (1961). Uni Soviet menunjukkan lagi kelebihannya dengan meluncurkan Gherman Stepanovich Titov yang mengitari bumi selama 25 jam dengan pesawat Vostok II. Disusul oleh Amerika Serikat yang meluncurkan John H. Glenn dengan pesawat Friendship VII yang berhasil mengitari bumi sebanyak tiga kali.
            Untuk mengetahui strategi serta rahasia lawan masing-masing, kedua blok yang bertikai mengembangkan kegiatan spionase atau mata-mata. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh agen-agen spionase, yaitu antara Komitet Gosudarstevennoy Bezapasnosti (KGB) dan Central Intelegence Agency (CIA). Organisasi KGB adalah dinas intelijen Amerika Serikat. Organisasi KGB dan CIA juga berperan dalam membantu terciptanya berbagai peristiwa di dunia. Misalnya, CIA membantu orang-orang Kuba di perantauan untuk melakukan serangan ke Kuba pada 1961. Kegiatan spionase di seluruh dunia pada akhirnya menjadi ciri dari persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur.

Sumber : Buku SMA Sejarah Kelas 12           

1 comment: