Monday, June 20, 2016


Perang Balkan

Oleh: Dina Farhana

         
           Kawasan Balkan pada umumnya dikenal sebagai wilayah yanga ada pada semenanjung Balkan yang dikelilingi Laut Adriatik, Ionia, Aegea, Marmara dan Laut Hitam dari barat daya, selatan dan tenggara. Namun sebenarnya nama Balkan ialah nama sebuah penamaan kawasan yang secara geografis, historis, dan geopolitis di Eropa bagian tenggara yang dipenuhi dengan sejarah konflik karena faktor heterogenitas etnis, budaya dan agama dikawasan itu Daerah yang memiliki memiliki cakupan luas kurang lebih 550.000 km² ini mendapatkan namanya dari pegunungan Balkan yang melintasi pusat Bulgaria ke Serbia bagian timur.
Kawasan Balkan merupakan kawasan yang sejarahnya dipenuhi konflik dan dipengaruhi perebutan pengaruh dari kepentingan negara-negara besar: Austro-Hungaria, Rusia, Turki, Inggris, Jerman dan Perancis yang menambah rumitnya masalah yang ada di kawasan ini Pada abad 19 Balkan merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Turki Ottoman yang diberi nama Roumelia yang terdiri dari: Albania, Macedonia, dan Thracia, Yunani dan Serbia.
Situasi Balkan pada dekade pertama abad ke-20 amatvrumit. Kekuasaan Turki hanya terasa di bagian tengah yang sempit saja, yang memanjang mulai dari kota Kostantinopel terus ke laut Adriatik. Di sebelah Utara dan sebelah selatannya terdapat negara-negara merdeka, yaitu Rumania, Serbia, Bulgaria, dan Yunani. Negara-negara ini secara praktis sjaa merupakan negara merdeka, sebab secara teknik sesungguhnya masih merupakan bagian dari Kesultanan Turki, tapi secara hukum merupakan caerah otonom. Kerajaan Austria-Hongaria meliputi Kroasia dan Slovenia, dan sejak tahun 1878 telah menduduki dan mengurus Bosnia dan Herzegovina sebagai daerah mandat.[1]
        Kecuali bangsa Yunani dan bangsa Rumania, sebagian besar penduduk semenanjung Balkan berbicara dalam berbagai variasi. Bahasa slavia serta secara historis dan kultural merasa bersaudara satu dengan yang lain. Berabad-abad lamanya mereka berada di bawah kekuasaan Bangsa Austria, bangsa Hongaria, atau bangsa Turki. Pertumbuhan nasionalsme yang menjadi ciri Eropa pada akhir abad ke-19 menyebabkan banyak dari bangsa-bangsa Slavia ini menginginkan kemerdekaan. Kelompok yang lebih radikal dari mereka menginginkan persatuan bangsa-bangsa Slavia selatan atau Yugoslavia menjadi satu bangsa. Mereka mengharapkan bangsa Serbia yang sudah merdeka sebagai pusat dari bangsa yang baru itu dan mengharapkan agar semua provinsi-provinsi Slavia (terutama Bosnia yang berbatasan dengan Serbia) dilepaskan dari Austria. Dalam hal ini, Serbialah yang harus mempersatukan semua bangsa Slavia, sebagaimana Prusia telah malakukannya untuk bangsa Jerman (Craig [et al], 1986: 1077)
           Pada tahun 1908, di Turki timbul grakan Turki muda yang dipelopori oleh orang-orang yang menghendaki pembaharuan dan modernisasi. Gerakan Turki muda ini menyebabkan terjadinya revolusi dalam kesultanan Turki, yang bertujuan untuk menyelamatkan Turki dari kehancurannya serta menghendaki penghapusan praktek-praktek yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Gerakan Turki muda ini dikhawatirkan akan memulihkan kejayaan Turki hingga dapat mengganggu rencana negara-negara Eropa terhadap Balkan, yang bagaikan serigala siap menerkam bangkai-bangkai Turki di sana. Kekhawatiran ini menimbulkan serangkaian krisis di Balkan yang terus berkembang dan akhirnya mejadi pemicu terjadinya Perang Dunia I.[2]

A.    Perang Balkan I
            Perang Balkan I adalah suatu rangkaian pertempuran yang berlangsung antara 8 Oktober 1912 sampai 18 Mei 1913 antara Liga Balkan (Serbia, Montenegro, Yunani, dan Bulgaria) melawan Kekaisaran Ottoman Turki. Perang ini merupakan bagian pertama dari Perang Balkan di Semenanjung Balkan dan bertujuan merebut Makedonia yang dikuasai oleh Turki. Perang berakhir dengan kemenangan di pihak Liga Balkan dan ditandatanganinya Perjanjian London. Setelah berakhirnya perang, terjadi perselisihan mengenai batas wilayah kekuasaan antara anggota liga, yang menyebabkan pecahnya Perang Balkan II.[3]
Perang ini merupakan bagian pertama dari Perang Balkan di Semenanjung Balkan dan bertujuan merebut Makedonia yang dikuasai oleh Turki.Perang berakhir dengan kemenangan di pihak Liga Balkan dan ditandatanganinya Perjanjian London.Setelah berakhirnya perang, terjadi perselisihan mengenai batas wilayah kekuasaan antara anggota liga, yang menyebabkan pecahnya Perang Balkan II. Jelas memperlihatkan bahawa perjanjian Liga Balkan 1912 secara langsung menyebabkan kuasa-kuasa kecil Balkan bersetuju untuk bersama-sama mengusir kerajaan Uthmaniyah di Balkan dan kemudiannya empayar Austria-Hungary.Peperangan ini membuktikan bahawa kuasa-kuasa kecil ini telah mampu berdikari dari segi ketenteraan sehingga boleh melancarkan serangan ke atas musuh mereka tanpa bantuan daripada kuasa-kuasa besar. Kejayaan mereka menewaskan kerajaan Uthmaniyah terutama di Albania dan Adrianople ternyata membimbangkan kuasa-kuasa besar terutamanya Rusia dan Austria-Hungary.[4]
Krisis Maroko II juga merangsang bangkitnya krisis lain di Balkan.Italia mencoba mendapatkan koloni dan mengambil tempat di antara negara-negara besar. Italia menginginkan Libia, yang walaupun pada waktu itu tidak terlalu berharga, namun paling tidak tersedia, Italia khawatir bahwa pengakuan proktorat Prancis di Maroko akan memberanikan Prancis untuk bergerak ke Libia. Oleh karena itu Italia menyerang Turki, mendahului Perancis, mengalahkan Turki dan memperoleh Libia dan Kepulauan Dodecanese.Kemenangan Italia ini mendorong keberanian negara-negara Balkan untuk mencoba nasibnya.[5]
Melihat perkembangan di Balkan, pasukan Turki yang berada di Syria ditarik ke wilayah tersebut untuk menghadapi pecahnya perang. Pada tanggal 30 September 1912 Liga Balkan memulai memobil-isasi pasukan untuk menyerang pasukan Turki. Pada tanggal 18 Oktober 1912 pertempuran pertama terjadi di Montenegro. Pertempuran meluas ke wilayah yang lain: Serbia, Bulgaria, Yunani. Dalam pertempuran tersebut pasukan Turki dapat dikalahkan.
Pada tahun 1912, Bulgaria, Yunani, Montenegro, dan Serbia bersama-sama menyerang Turki, dan memperoleh kemenangan dengan mudah. Setelah Perang Balkan I ini, para pemenangnya bertengkar satu sama yang lain. Bulgaria dan Serbia mempertengkarkan pembagian Macedonia, dan pada tahun 1913 meletus lagi Perang Balkan II.Turki dan Rumania bergabung dengan negara-negara Balkan lain melawan Bulgaria dan berhasil mengambil banyak dari wilayah yang sudah diperoleh Bulgaria sejak tahun 1878. [6]
Pada bulan Januari 1913, sekelompok perwira militer muda Turki sukses melancarkan kudeta dan memaksa Turki untuk melanjutkan perang melawan Liga Balkan. Setelah serangan balasan gagal Turki-di depan-Thracian Barat, pasukan Bulgaria dengan bantuan tentara Serbia berhasil menaklukkan Adrianople sementara pasukan Yunani berhasil mengambil Ioannina setelah berhasil mengalahkan Turki dalam pertempuran Bizani. Di lain pihak Serbia bersama Montenegro setelah melakukan pengepungan di Kota Shkodra, akhirnya berhasil mengakhiri pendudukan Turki di Balkan.
Atas intervensi negara-negara besar, akhirnya berhasil memaksa Kerajaan Turki menyerah dengan menandatangani Treaty Of London (Perjanjian London) tanggal 30 Mei 1913. Dengan isi pokok perjanjian sebagai berikut
1.      Turki menyerahkan Crete kepada Yunani
2.      Albania dan kepualauan Aegea berada di bawah pengawasan Komisi Internasional.
3.      Turki melepaskan seluruh wilayah-wilayahnya yang berada di Balkan.
Setelah berakhirnya perang Balkan pertama ini, terjadi perselisihan mengenai batas wilayah kekuasaan antara anggota liga Balkan tersebut, yang nantinya memicu pecahnya Perang Balkan Kedua.
Sesudah perang Balkan I, Austria yang penuh kekhawatiran, memutuskan untuk membatasi perolehan Serbia, dan secara khusus mencegah Serbia dari Albania, namun Rusia mendukung Serbia. Akibatnya ketegangan memuncak.Suatu konferensi internasional yang disponsori oleh Inggris pada tahun 1913, mengambil penyelesaian yang menguntungkan Austria dan menghendaki kemerdekaan Albania.Sekalipun kongres ini (diselenggarakan di London) menguntungkan Austria dan merugikan Serbia, Austria merasa dipermalukan oleh terbukanya atau terdengarnya tuntutan Serbia kepada umum.[7]

B.     Perang Balkan II
Perang Balkan Kedua pecah ketika Kerajaan Bulgaria menyerang bekas sekutunya, Serbia dan Yunani, pada 16 Juni 1913 karena sengketa mengenai daerah perbatasan. Selanjutnya pada tanggal 8 Juli 1913 Serbia-Yunani mengumumkan perang melawan kerajaan Bulgaria. Akhirnya Tentara Yunani dan Serbia berhasil mengusir tentara Bulgaria dan melancarkan serangan balik, memasuki wilayah Bulgaria. Negara-negara Balkan lain seperti Rumania dan Montenegro akhirnya turut terlibat dalam perang ini dengan mendukung Yunani dan Serbia, karena adanya sengketa wilayah. Kesultanan Turki Ottoman juga mengambil kesempatan dari situasi ini dengan membantu Serbia dan Yunani juga untuk merebut kembali wilayah yang hilang dari perang sebelumnya.[8]
Perang Balkan Kedua adalah sebuah konflik yang meletus apabila Bulgaria yang tidak berpuas hati dengan pembahagian wilayah selepas tamatnya Perang Balkan I, telah menyerang bekas sekutunya Serbia dan Greece, pada 29 Jun 1913. Bulgaria telah membuat persetujuan pra-perang berkenaan dengan pembahagian wilayah Macedonia. Tetapi Serbia, yang kecewa apabila dipaksa oleh Kuasa Besar untuk mengosongkan Albania, enggan untuk melepaskan lebih banyak wilayah taklukan. Bulgaria kemudian mengistiharkan perang ke atas Serbia. Tidak lama kemudian, pertikaian kecil meletus di sepanjang sempadan dalam zon diduduki di antara Bulgaria, Serbia dan Greece. Serbia mula berunding dengan Greece, yang mana mula curiga akan niat Bulgaria. Tentera Serbia dan Greek serta merta mengundurkan serangan Bulgarian. Romania juga menyerang Bulgaria sebagai tindak balas atas serangan terdahulu di sempadan. Empayar Uthmaniyyah mengambil kelebihan situasi ini untuk mendapatkan semula beberapa wilayah yang hilang semasa Perang Balkan Pertama.
Pada tanggal 30 Juli 1913 Bulgaria tidak sanggup menghadapi gabungan pasukan Balkan dan Turki yang berhasil memukul balik pasukan kerajaan Bulgaria hingga Ibukota Bulgaria, Sofia, sehingga akhirnya Bulgaria menyatakan menyerah dan  bersedia menandatangani usul perjanjian perdamaian di Bucharet, Rumania, pada 10 Agustus 1913 yang dikenal dengan nama Traktat Bucharest.
Isi pokok Traktat Bucharest antara lain adalah:
1.      Bulgaria memberikan wilayah seluas 7770 kilometer persegi kepada Rumania,
2.      Membagi wilayah Macedonia pada Serbia dan  Yunani
3.      Bulgaria juga harus menyerahkan beberapa wilayah kepada Turki.
Perang Balkan Kedua inilah yang merupakan bibit perseteruan yang akhirnya menimbulkan pecahnya Perang Dunia Pertama tahun 1914.
            Selama berlangsungnya krisis Balkan ini, industry persenjataan menggunakan kesempatan untuk menjual perlengkapan perang kepada berbagai Negara di Balkan dengan memanfaatkan rasa takut suatu Negara terhadap niat agresif Negara tetangganya. Selain itu, menurut Easton (1966; 706) banyak perkumpulan rahasia yang melakukan aktivitasnya di sana, dan sebagian besar terlibat dalam kegiatan terorisme.

Namun, gencatan senjata dibatalkan oleh Bulgaria pada Januari 1913, apabila tuntutannya untuk menguasai Adrianople tidak dipenuhi oleh Uthmaniyah. Selain masalah Bulgaria dengan kerajaan Uthmaniyah, Bulgaria juga menghadapi masalah dengan sekutu-sekutunya mengenai pembahagian wilayah yang dirampas daripada kerajaan Uthmaniyah. Perebutan sesama kuasa-kuasa kecil ini berlarutan sehingga bulan Mei 1913. Ini disebabkan tindakan Sir Edward Grey yang mendesak kuasakuasa kecil mempercepatkan menandatangani perjanjian damai dengan kerajaan Uthmaniyah tanpa persetujuan mereka tentang pembahagian wilayah yang dirampas daripada Uthmaniyah. Mereka terpaksa menandatangani perjanjian dengan kerajaan Uthmaniyah pada 30 Mei 1913 yang dikenali sebagai Perjanjian London. Perjanjian yang dibuat atas inisiatif Sir Edward Grey berjaya menamatkan masalah tentang status Albania di Balkan. Namun, kelemahan perjanjian tersebut tidak menyentuh tentang pembahagian rampasan wilayah yang diambil daripada kerajaan Uthmaniyah oleh kuasa-kuasa kecil. Kelemahan inilah yang menyebabkan mereka tidak berpuas hati antara satu sama lain. Serbia dan Bulgaria mendakwa bahawa Macedonia adalah hak mereka. Ini menyebabkan peperangan di Balkan yang berlaku sekali lagi tidak dapat dielakkan dan seterusnya mencetuskan Perang Balkan 2 antara Serbia dan Bulgaria pada Mei 1913 iaitu dua bulan selepas termeterainya Perjanjian London 1913. Perang Balkan 2 sekali lagi membawa kejayaan kepada Serbia.



[1] Julius Siboro, Sejarah Eropa, Penerbit Ombak, Yogyakarta: 2012, Hal: 45
[2] Ibid: 46
[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Balkan_I
[4] http://tetesankata-kata.blogspot.co.id/2016/03/perang-balkan-1912-1913.html
[5] Julius Siboro, Sejarah Eropa, Penerbit Ombak, Yogyakarta: 2012, Hal : 48
[6] Ibid, Hal : 49
[7] Ibid, Hal: 49
[8] http://referensianaa.blogspot.co.id/2015/11/perang-balkan.html

3 comments: