Perang Balkan
Oleh: Dina Farhana
Kawasan Balkan pada umumnya dikenal sebagai wilayah yanga ada pada semenanjung Balkan yang dikelilingi Laut Adriatik, Ionia, Aegea, Marmara dan Laut Hitam dari barat daya, selatan dan tenggara. Namun sebenarnya nama Balkan ialah nama sebuah penamaan kawasan yang secara geografis, historis, dan geopolitis di Eropa bagian tenggara yang dipenuhi dengan sejarah konflik karena faktor heterogenitas etnis, budaya dan agama dikawasan itu Daerah yang memiliki memiliki cakupan luas kurang lebih 550.000 km² ini mendapatkan namanya dari pegunungan Balkan yang melintasi pusat Bulgaria ke Serbia bagian timur.
Kawasan Balkan merupakan kawasan yang sejarahnya dipenuhi
konflik dan dipengaruhi perebutan pengaruh dari kepentingan negara-negara
besar: Austro-Hungaria, Rusia, Turki, Inggris, Jerman dan Perancis yang
menambah rumitnya masalah yang ada di kawasan ini Pada abad 19 Balkan merupakan
bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Turki Ottoman yang diberi nama Roumelia yang
terdiri dari: Albania, Macedonia, dan Thracia, Yunani dan Serbia.
Situasi Balkan pada dekade pertama abad ke-20 amatvrumit.
Kekuasaan Turki hanya terasa di bagian tengah yang sempit saja, yang memanjang
mulai dari kota Kostantinopel terus ke laut Adriatik. Di sebelah Utara dan
sebelah selatannya terdapat negara-negara merdeka, yaitu Rumania, Serbia,
Bulgaria, dan Yunani. Negara-negara ini secara praktis sjaa merupakan negara
merdeka, sebab secara teknik sesungguhnya masih merupakan bagian dari Kesultanan
Turki, tapi secara hukum merupakan caerah otonom. Kerajaan Austria-Hongaria
meliputi Kroasia dan Slovenia, dan sejak tahun 1878 telah menduduki dan
mengurus Bosnia dan Herzegovina sebagai daerah mandat.[1]
Kecuali bangsa Yunani dan
bangsa Rumania, sebagian besar penduduk semenanjung Balkan berbicara dalam
berbagai variasi. Bahasa slavia serta secara historis dan kultural merasa
bersaudara satu dengan yang lain. Berabad-abad lamanya mereka berada di bawah
kekuasaan Bangsa Austria, bangsa Hongaria, atau bangsa Turki. Pertumbuhan
nasionalsme yang menjadi ciri Eropa pada akhir abad ke-19 menyebabkan banyak
dari bangsa-bangsa Slavia ini menginginkan kemerdekaan. Kelompok yang lebih
radikal dari mereka menginginkan persatuan bangsa-bangsa Slavia selatan atau
Yugoslavia menjadi satu bangsa. Mereka mengharapkan bangsa Serbia yang sudah
merdeka sebagai pusat dari bangsa yang baru itu dan mengharapkan agar semua
provinsi-provinsi Slavia (terutama Bosnia yang berbatasan dengan Serbia)
dilepaskan dari Austria. Dalam hal ini, Serbialah yang harus mempersatukan
semua bangsa Slavia, sebagaimana Prusia telah malakukannya untuk bangsa Jerman
(Craig [et al], 1986: 1077)
Pada tahun 1908, di Turki
timbul grakan Turki muda yang dipelopori oleh orang-orang yang menghendaki pembaharuan
dan modernisasi. Gerakan Turki muda ini menyebabkan terjadinya revolusi dalam
kesultanan Turki, yang bertujuan untuk menyelamatkan Turki dari kehancurannya
serta menghendaki penghapusan praktek-praktek yang tidak sesuai lagi dengan
perkembangan zaman. Gerakan Turki muda ini dikhawatirkan akan memulihkan
kejayaan Turki hingga dapat mengganggu rencana negara-negara Eropa terhadap
Balkan, yang bagaikan serigala siap menerkam bangkai-bangkai Turki di sana.
Kekhawatiran ini menimbulkan serangkaian krisis di Balkan yang terus berkembang
dan akhirnya mejadi pemicu terjadinya Perang Dunia I.[2]
A. Perang Balkan I
Perang Balkan I adalah suatu rangkaian
pertempuran yang berlangsung antara 8 Oktober 1912 sampai 18 Mei 1913 antara
Liga Balkan (Serbia, Montenegro, Yunani, dan Bulgaria) melawan Kekaisaran
Ottoman Turki. Perang ini merupakan bagian pertama dari Perang Balkan di
Semenanjung Balkan dan bertujuan merebut Makedonia yang dikuasai oleh Turki.
Perang berakhir dengan kemenangan di pihak Liga Balkan dan ditandatanganinya
Perjanjian London. Setelah berakhirnya perang, terjadi perselisihan mengenai
batas wilayah kekuasaan antara anggota liga, yang menyebabkan pecahnya Perang
Balkan II.[3]
Perang ini merupakan bagian pertama dari Perang Balkan di
Semenanjung Balkan dan bertujuan merebut Makedonia yang dikuasai oleh
Turki.Perang berakhir dengan kemenangan di pihak Liga Balkan dan
ditandatanganinya Perjanjian London.Setelah berakhirnya perang, terjadi
perselisihan mengenai batas wilayah kekuasaan antara anggota liga, yang
menyebabkan pecahnya Perang Balkan II. Jelas memperlihatkan bahawa perjanjian
Liga Balkan 1912 secara langsung menyebabkan kuasa-kuasa kecil Balkan bersetuju
untuk bersama-sama mengusir kerajaan Uthmaniyah di Balkan dan kemudiannya
empayar Austria-Hungary.Peperangan ini membuktikan bahawa kuasa-kuasa kecil ini
telah mampu berdikari dari segi ketenteraan sehingga boleh melancarkan serangan
ke atas musuh mereka tanpa bantuan daripada kuasa-kuasa besar. Kejayaan mereka
menewaskan kerajaan Uthmaniyah terutama di Albania dan Adrianople ternyata
membimbangkan kuasa-kuasa besar terutamanya Rusia dan Austria-Hungary.[4]
Krisis
Maroko II juga merangsang bangkitnya krisis lain di Balkan.Italia mencoba
mendapatkan koloni dan mengambil tempat di antara negara-negara besar. Italia
menginginkan Libia, yang walaupun pada waktu itu tidak terlalu berharga, namun
paling tidak tersedia, Italia khawatir bahwa pengakuan proktorat Prancis di
Maroko akan memberanikan Prancis untuk bergerak ke Libia. Oleh karena itu
Italia menyerang Turki, mendahului Perancis, mengalahkan Turki dan memperoleh
Libia dan Kepulauan Dodecanese.Kemenangan Italia ini mendorong keberanian
negara-negara Balkan untuk mencoba nasibnya.[5]
Melihat perkembangan di Balkan, pasukan Turki yang berada
di Syria ditarik ke wilayah tersebut untuk menghadapi pecahnya perang. Pada
tanggal 30 September 1912 Liga Balkan memulai memobil-isasi pasukan untuk
menyerang pasukan Turki. Pada tanggal 18 Oktober 1912 pertempuran pertama
terjadi di Montenegro. Pertempuran meluas ke wilayah yang lain: Serbia,
Bulgaria, Yunani. Dalam pertempuran tersebut pasukan Turki dapat dikalahkan.
Pada
tahun 1912, Bulgaria, Yunani, Montenegro, dan Serbia bersama-sama menyerang
Turki, dan memperoleh kemenangan dengan mudah. Setelah Perang Balkan I ini,
para pemenangnya bertengkar satu sama yang lain. Bulgaria dan Serbia
mempertengkarkan pembagian Macedonia, dan pada tahun 1913 meletus lagi Perang
Balkan II.Turki dan Rumania bergabung dengan negara-negara Balkan lain melawan
Bulgaria dan berhasil mengambil banyak dari wilayah yang sudah diperoleh
Bulgaria sejak tahun 1878. [6]
Pada bulan Januari 1913, sekelompok perwira militer muda
Turki sukses melancarkan kudeta dan memaksa Turki untuk melanjutkan perang
melawan Liga Balkan. Setelah serangan balasan gagal Turki-di depan-Thracian
Barat, pasukan Bulgaria dengan bantuan tentara Serbia berhasil menaklukkan
Adrianople sementara pasukan Yunani berhasil mengambil Ioannina setelah
berhasil mengalahkan Turki dalam pertempuran Bizani. Di lain pihak Serbia bersama
Montenegro setelah melakukan pengepungan di Kota Shkodra, akhirnya berhasil
mengakhiri pendudukan Turki di Balkan.
Atas intervensi negara-negara besar, akhirnya berhasil
memaksa Kerajaan Turki menyerah dengan menandatangani Treaty Of London
(Perjanjian London) tanggal 30 Mei 1913. Dengan isi pokok perjanjian sebagai
berikut
1. Turki menyerahkan Crete kepada Yunani
2. Albania dan kepualauan Aegea berada di bawah pengawasan Komisi
Internasional.
3. Turki melepaskan seluruh wilayah-wilayahnya yang berada di Balkan.
Setelah berakhirnya perang Balkan pertama ini, terjadi perselisihan
mengenai batas wilayah kekuasaan antara anggota liga Balkan tersebut, yang
nantinya memicu pecahnya Perang Balkan Kedua.
Sesudah
perang Balkan I, Austria yang penuh kekhawatiran, memutuskan untuk membatasi
perolehan Serbia, dan secara khusus mencegah Serbia dari Albania, namun Rusia
mendukung Serbia. Akibatnya ketegangan memuncak.Suatu konferensi internasional
yang disponsori oleh Inggris pada tahun 1913, mengambil penyelesaian yang
menguntungkan Austria dan menghendaki kemerdekaan Albania.Sekalipun kongres ini
(diselenggarakan di London) menguntungkan Austria dan merugikan Serbia, Austria
merasa dipermalukan oleh terbukanya atau terdengarnya tuntutan Serbia kepada umum.[7]
B. Perang Balkan II
Perang Balkan Kedua pecah ketika Kerajaan Bulgaria
menyerang bekas sekutunya, Serbia dan Yunani, pada 16 Juni 1913 karena sengketa
mengenai daerah perbatasan. Selanjutnya pada tanggal 8 Juli 1913 Serbia-Yunani
mengumumkan perang melawan kerajaan Bulgaria. Akhirnya Tentara Yunani dan
Serbia berhasil mengusir tentara Bulgaria dan melancarkan serangan balik,
memasuki wilayah Bulgaria. Negara-negara Balkan lain seperti Rumania dan
Montenegro akhirnya turut terlibat dalam perang ini dengan mendukung Yunani dan
Serbia, karena adanya sengketa wilayah. Kesultanan Turki Ottoman juga mengambil
kesempatan dari situasi ini dengan membantu Serbia dan Yunani juga untuk
merebut kembali wilayah yang hilang dari perang sebelumnya.[8]
Perang Balkan Kedua adalah sebuah konflik yang meletus
apabila Bulgaria yang tidak berpuas hati dengan pembahagian wilayah selepas
tamatnya Perang Balkan I, telah menyerang bekas sekutunya Serbia dan Greece,
pada 29 Jun 1913. Bulgaria telah membuat persetujuan pra-perang berkenaan
dengan pembahagian wilayah Macedonia. Tetapi Serbia, yang kecewa apabila
dipaksa oleh Kuasa Besar untuk mengosongkan Albania, enggan untuk melepaskan
lebih banyak wilayah taklukan. Bulgaria kemudian mengistiharkan perang ke atas
Serbia. Tidak lama kemudian, pertikaian kecil meletus di sepanjang sempadan
dalam zon diduduki di antara Bulgaria, Serbia dan Greece. Serbia mula berunding
dengan Greece, yang mana mula curiga akan niat Bulgaria. Tentera Serbia dan
Greek serta merta mengundurkan serangan Bulgarian. Romania juga menyerang
Bulgaria sebagai tindak balas atas serangan terdahulu di sempadan. Empayar
Uthmaniyyah mengambil kelebihan situasi ini untuk mendapatkan semula beberapa
wilayah yang hilang semasa Perang Balkan Pertama.
Pada tanggal 30 Juli 1913 Bulgaria tidak sanggup
menghadapi gabungan pasukan Balkan dan Turki yang berhasil memukul balik
pasukan kerajaan Bulgaria hingga Ibukota Bulgaria, Sofia, sehingga akhirnya
Bulgaria menyatakan menyerah dan bersedia
menandatangani usul perjanjian perdamaian di Bucharet, Rumania, pada 10 Agustus
1913 yang dikenal dengan nama Traktat Bucharest.
Isi pokok Traktat Bucharest antara lain adalah:
1.
Bulgaria memberikan wilayah seluas 7770
kilometer persegi kepada Rumania,
2. Membagi wilayah Macedonia pada Serbia dan
Yunani
3.
Bulgaria juga harus menyerahkan beberapa
wilayah kepada Turki.
Perang Balkan Kedua inilah yang merupakan bibit perseteruan yang akhirnya
menimbulkan pecahnya Perang Dunia Pertama tahun 1914.
Selama
berlangsungnya krisis Balkan ini, industry persenjataan menggunakan kesempatan
untuk menjual perlengkapan perang kepada berbagai Negara di Balkan dengan
memanfaatkan rasa takut suatu Negara terhadap niat agresif Negara tetangganya.
Selain itu, menurut Easton (1966; 706) banyak perkumpulan rahasia yang
melakukan aktivitasnya di sana, dan sebagian besar terlibat dalam kegiatan
terorisme.
Namun, gencatan senjata dibatalkan oleh Bulgaria pada
Januari 1913, apabila tuntutannya untuk menguasai Adrianople tidak dipenuhi
oleh Uthmaniyah. Selain masalah Bulgaria dengan kerajaan Uthmaniyah, Bulgaria
juga menghadapi masalah dengan sekutu-sekutunya mengenai pembahagian wilayah
yang dirampas daripada kerajaan Uthmaniyah. Perebutan sesama kuasa-kuasa kecil
ini berlarutan sehingga bulan Mei 1913. Ini disebabkan tindakan Sir Edward Grey
yang mendesak kuasakuasa kecil mempercepatkan menandatangani perjanjian damai
dengan kerajaan Uthmaniyah tanpa persetujuan mereka tentang pembahagian wilayah
yang dirampas daripada Uthmaniyah. Mereka terpaksa menandatangani perjanjian
dengan kerajaan Uthmaniyah pada 30 Mei 1913 yang dikenali sebagai Perjanjian
London. Perjanjian yang dibuat atas inisiatif Sir Edward Grey berjaya
menamatkan masalah tentang status Albania di Balkan. Namun, kelemahan
perjanjian tersebut tidak menyentuh tentang pembahagian rampasan wilayah yang
diambil daripada kerajaan Uthmaniyah oleh kuasa-kuasa kecil. Kelemahan inilah
yang menyebabkan mereka tidak berpuas hati antara satu sama lain. Serbia dan
Bulgaria mendakwa bahawa Macedonia adalah hak mereka. Ini menyebabkan
peperangan di Balkan yang berlaku sekali lagi tidak dapat dielakkan dan
seterusnya mencetuskan Perang Balkan 2 antara Serbia dan Bulgaria pada Mei 1913
iaitu dua bulan selepas termeterainya Perjanjian London 1913. Perang Balkan 2
sekali lagi membawa kejayaan kepada Serbia.
[1] Julius Siboro, Sejarah Eropa, Penerbit
Ombak, Yogyakarta: 2012, Hal: 45
[2] Ibid: 46
[3]
https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Balkan_I
[4]
http://tetesankata-kata.blogspot.co.id/2016/03/perang-balkan-1912-1913.html
[6] Ibid, Hal : 49
[7] Ibid, Hal: 49
[8]
http://referensianaa.blogspot.co.id/2015/11/perang-balkan.html
yuk main sabung ayam
ReplyDeleteyuk main agen sabung ayam
yuk main judi sabung ayam online
yuk main bolavita
yuk main asianbookie
BANDAR Taruhan Online Terpercaya BOLAVITA
1. agenpialadunia2018-blog.logdown.com
info menarik
ReplyDeletehttps://youtu.be/jWn_BkzE9V0
ReplyDelete