oleh: Nurmalia Kusuma Putri
Yugoslavia
adalah satu-satunya negara di Eropa yang selama Perang Dingin memilih haluan
politik jalan tengah antara Blok Timur dan Blok Barat. Yugoslavia mulai menjalin
kerjasama dengan negara-negara lainnya di dunia. Pada saat Eropa pasca Perang Dunia ke-2
terbagi dalam dua blok, pimpinan Yugoslavia Josip Broz Tito mengambil pilihan
lain. Ketika Tahun 1948 terjadi perpecahan antara Presiden Uni Sovyet Josef Stalin
dengan Tito, yang kala itu masih menjabat Perdana Menteri Yugoslavia. Setelah
terpilih sebagai Presiden Yugoslavia tahun 1953, Josip Broz Tito memunggungi
blok Timur yang berhaluan komunis.
Antara Blok Timur-Barat
Walaupun tidak memilih blok Timur, Yugoslavia tidak mungkin
memasuki blok Barat. Selanjutnya Tito menjalin hubungan dengan pimpinan
negara-negara lainnya, antara lain dengan Perdana Menteri India Nehru dan
Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Presiden Ghana Nkrumah dan Presiden
Indonesia Soekarno. Atas prakarsa Soekarno, tahun 1955 dilangsungkan KTT Asia
Afrika di Bandung, yang menjadi batu fondasi terbentuknya Gerakan Non Blok,
yang secara resmi dibentuk di ibukota Yugoslavia Beograd pada tahun 1961.
Perang Dingin Berakhir, Non Blok Melemah
Yugoslavia adalah salah satu motor terpenting di antara
negara-negara non blok, dan dengan runtuhnya Yugoslavia Gerakan Non Blok
menjadi lemah. Demikian pendapat pakar kawasan Balkan Rüdiger Rossig. Namun
Rössig juga mengatakan, Gerakan Non Blok sebelumnya sudah melemah atas alasan
yang sama, yang menyebabkan melemahnya Yugoslavia. Alasan itu adalah
berakhirnya konfrontasi blok Timur dan Barat
"Gerakan
Non Blok selalu mendefinisikan dirinya berada di tengah-tengah di antara kedua
blok. Dan dalam hal ini hanya dibuat usulan alternatif untuk kedua sistem
tersebut. Pada saat kedua sistem melepaskan konfrontasinya, tempat di mana non
blok berada juga hilang," papar Rössig.
Munculnya
Gerakan Separatis
Runtuhnya
Yugoslavia adalah contoh paling buruk dan makanan empuk gerakan-gerakan
separatis di Afrika. Demikian pandangan Asfa-Wossen Asserate, pakar politik
serta konsultan perusahaan Etiopia-Jerman untuk Afrika dan kawasan Timur
Tengah.
Semua
negara di Afrika, seperti halnya Yugoslavia dulu, terdiri dari ribuan etnik
yang yang menggunakan ratusan bahasa yang berbeda pula. Batas negara-negara di
Afrika secara otoriter dibuat oleh penguasa kolonial kala itu, yaitu Inggris
dan Perancis, dan sering kali dibuat melewati batas-batas kawasan pemukiman
etnik. Demikian dijelaskan Asfa-Wossen Asserate yang juga cucu keponakan raja
terakhir Etiopia.
Tidak Mampu Menghadapi Perubahan Cepat
Pecahnya Yugoslavia memiliki konsekuensi bagi politik perdamaian.
Sampai dimulainya perang di Kroasia tahun 1991, Yugoslavia masih diupayakan
sebagai negara kesatuan guna menjaga stabilitas di kawasan itu. Tapi perubahan
cepat politik internasional yang terjadi setelah 1991, membuat para diplomat
dan tokoh politik kewalahan.
"Akhir konflik Timur-Barat, runtuhnya Uni Sovyet sebuah
kekuatan yang sampai saat itu dipandang sebagai negara adikuasa dan adidaya
atom, kemudian kudeta di Moskow, disusul penyatuan Jerman, Perang Teluk tahun
1991. Semua itu mengubah titik-titik koordinat politik internasional secara
mendasar. Kala itu hampir tidak ada tokoh politik dan diplomat yang memiliki
konsep bagaimana menghadapi situasi tersebut," demikian dijelaskan Holm
Sudhaussen, pakar sejarah Eropa Tenggara dari Jerman.
Negara
Bekas Yugoslavia Perlu Waktu
Profesor Sundhaussen berpendapat, Yugoslavia sebetulnya
dapat berkembang ke arah Uni Eropa kecil. Gagalnya upaya untuk mengkoordinir
banyak negara dalam satu atap oleh aktor-aktor politik di kawasan itu, diakui
oleh pakar Balkan Rüdiger Rossig, "Yugoslavia pada kenyataannya ambruk,
dan kita dalam 50 tahun lagi masih dapat menganggap, seolah-olah Yugoslavia
dihancurkan dari luar. Yugoslavia tercerai-berai, hancur dan dirampok oleh
kelompok-kelompok politiknya sendiri. Saya pikir kita di kawasan-kawasan bekas
Yugoslavia, tidak akan berhasil memperoleh kemajuan , terutama dalam reformasi
politik dan ekonomi elitnya, sebelum kami mengakui hal itu."
Makna Bendera Negara-Negara Pecahan
Yugoslavia
Yugoslavia
adalah negara yang dulu pernah berdiri di Eropa Tenggara. Awalnya dikenal
berkat keberagaman penduduk & netralitasnya di dunia internasional, negara
tersebut di akhir hayatnya lebih dikenal dengan perang yang diwarnai aksi
saling bantai antar etnis. Dulu pihak Republik pernah membahas soal Yugoslavia
dari awal berdiri hingga keruntuhannya. Silakan menengok kembali artikelnya disini jika ada
pengunjung yang penasaran dengan sejarah mantan negara terbesar di Semenanjung
Balkan tersebut. Ada 6 negara yang dulunya berstatus sebagai bagian dari
Yugoslavia. Keenam negara tersebut adalah Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Serbia,
Slovenia, Makedonia, & Montenegro. Selain keenam negara tadi, ada pula Kosovo
yang status internasionalnya masih diperdebatkan hingga sekarang. Dan sesuai
dengan judulnya, dalam kesempatan kali ini pihak Republik
akan membahas makna bendera dari negara-negara yang bersangkutan.
sumbernya yah
ReplyDelete